News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Google Bangun Sistem Peringatan Gempa Terbesar Dunia Lewat Ponsel Android, Tanpa Menara atau Alat Seismik

Mohammad Sugianto • Minggu, 3 Agustus 2025 | 00:46 WIB

 

Ilustrasi Seorang pengguna Android menerima notifikasi Earthquake Alert dari sistem Android Earthquake Alerts (AEA) milik Google, di tengah lingkungan perkotaan modern
Ilustrasi Seorang pengguna Android menerima notifikasi Earthquake Alert dari sistem Android Earthquake Alerts (AEA) milik Google, di tengah lingkungan perkotaan modern

Radarbangkalan.id – Tanpa membangun menara mahal atau memasang alat seismik, Google berhasil menciptakan sistem peringatan dini gempa terbesar di dunia hanya dengan memanfaatkan akselerometer di lebih dari dua miliar ponsel Android.

Melalui teknologi bernama Android Earthquake Alerts (AEA), Google menjadikan ponsel Android sebagai alat deteksi dini gempa bumi yang kini menjangkau hampir seluruh wilayah rawan gempa, termasuk Indonesia, Jepang, dan Amerika Serikat.

Dilansir dari Live Science (1/8), sejak diluncurkan, sistem AEA telah mendeteksi lebih dari 11.000 gempa bumi antara 2021 hingga 2024. Dari jumlah itu, sekitar 1.279 peringatan dikirimkan ke pengguna di 98 negara, memberikan waktu berharga untuk bersiap sebelum guncangan hebat terjadi.

"Gempa bumi adalah ancaman nyata bagi masyarakat global. Walau lokasi rawan sudah dipetakan, dampaknya tetap bisa mematikan. Dengan beberapa detik peringatan, seseorang bisa turun dari tangga, menjauh dari kaca, atau berlindung," tulis Google dalam pernyataan resminya.

Berbeda dari sistem konvensional yang membutuhkan infrastruktur mahal, pendekatan Google dianggap revolusioner karena memanfaatkan teknologi yang sudah ada di tangan masyarakat, yaitu ponsel Android.

Sistem ini bekerja dengan mendeteksi gelombang P—gelombang pertama dari gempa yang cepat tapi tidak merusak—lalu memprediksi datangnya gelombang S yang lebih kuat. Ribuan sinyal dari ponsel akan dikumpulkan dan diolah menggunakan algoritma canggih untuk menentukan lokasi serta kekuatan gempa secara real-time.

Meskipun sensor ponsel tidak seakurat alat seismik profesional, kekuatan jumlah dan kecerdasan algoritma membuat sistem ini sangat efektif. Google juga mempertimbangkan faktor-faktor lokal seperti kondisi geologis dan struktur bangunan saat memproses data.

Berdasarkan survei pengguna, 85 persen mengaku menerima peringatan saat terjadi gempa, dan 36 persen mendapatkan notifikasi sebelum guncangan terasa. Menariknya, hanya tiga kasus dari ribuan peringatan yang terbukti keliru—angka yang menunjukkan akurasi luar biasa untuk sistem berbasis konsumen.

Meski begitu, sistem ini belum sempurna. Pada gempa besar di Turki tahun 2023, misalnya, kekuatan gempa sempat diremehkan akibat keterbatasan pemrosesan data. Google mengakui hal ini dan menyatakan terus melakukan pembaruan algoritma agar lebih presisi.

Terkait kekhawatiran bahwa AEA bisa menggantikan sistem resmi milik pemerintah, Google menegaskan bahwa teknologi ini hadir sebagai pelengkap, bukan pengganti. Tujuannya adalah meningkatkan keselamatan publik melalui pendekatan yang lebih luas dan terjangkau.

Dengan inovasi ini, Google tidak hanya memanfaatkan potensi teknologi secara maksimal, tetapi juga membuka jalan menuju masa depan mitigasi bencana yang lebih cepat, inklusif, dan terjangkau oleh semua kalangan.

 

Editor : Mohammad Sugianto
#AEAI #android #Aplikasi GEMPAS #goggle search #aplikasi #gogle maps