RadarBangkalan.id – Pohon Ketapang (Terminalia catappa) bukan sekadar tanaman peneduh biasa. Di balik strukturnya yang khas, pohon ini merupakan instrumen ekologis yang sangat vital bagi wilayah tropis, sekaligus sumber bahan baku farmasi yang sering kali kurang dimaksimalkan nilainya.
Ketapang memiliki sistem percabangan yang tumbuh secara horizontal dan bertingkat, membentuk kanopi menyerupai payung raksasa.
Struktur ini berfungsi sebagai perisai alami terhadap radiasi ultraviolet ekstrem dan angin kencang di wilayah pesisir.
Secara biologis ketapang memiliki toleransi tinggi terhadap kadar garam dan kekeringan, menjadikannya elemen stabilisasi tanah yang efektif untuk mencegah abrasi pantai.
Selain itu, daun ketapang kering adalah komoditas ekspor yang signifikan. Kandungan tanin dan asam organik di dalamnya mampu menurunkan pH air serta berfungsi sebagai antibakteri dan antijamur alami.
Ini sangat krusial dalam budidaya ikan hias seperti cupang untuk menstimulasi penyembuhan luka dan memperkuat sistem imun ikan.
Kandungan tanin yang pekat pada daun dan kulit batangnya dimanfaatkan dalam industri tekstil sebagai pewarna alami yang menghasilkan warna hitam dan cokelat tua yang stabil.
Meski tidak sekeras jati, kayu ketapang memiliki serat yang cukup kuat untuk digunakan dalam pembuatan perahu, konstruksi rumah sederhana, dan lantai kayu (flooring).
Pohon ketapang memberikan perlindungan fisik melalui kanopinya yang luas dan menawarkan solusi kimiawi melalui guguran daunnya.
Berawal dari sekadar tanaman pinggir jalan menjadi produk bernilai ekspor menunjukkan bahwa pemahaman terhadap aset biologis lokal dapat membuka peluang ekonomi yang berkelanjutan. (Athoya Hanin)
Editor : Ina Herdiyana