RadarBangkalan.id – Yoyo adalah salah satu mainan tertua di dunia yang tetap eksis melintasi berbagai generasi karena perpaduan unik antara prinsip fisika dan ketangkasan tangan.
Permainan ini terdiri dari dua cakram yang dihubungkan dengan poros, lalu dililitkan tali yang memungkinkan mainan tersebut turun dan naik kembali ke tangan pemainnya.
Sejarah yoyo sangat panjang, bahkan jejaknya ditemukan pada relief vas di Yunani kuno sekitar tahun 500 SM.
Baca Juga: Wingko Babat: Kudapan Panggang Legendaris dari Jalur Kereta Api
Namun, nama yoyo sendiri dipopulerkan di Filipina, yang dalam bahasa lokal berarti datang dan pergi.
Permainan ini mulai mendunia secara masif pada tahun 1920-an setelah diproduksi secara massal di Amerika Serikat, berkembang dari sekadar mainan kayu sederhana menjadi alat hobi yang canggih.
Daya tarik utama yoyo sebenarnya ada pada ilmu fisikanya. Saat kita lempar, yoyo akan berputar cepat di ujung tali dan seolah-olah diam di bawah, teknik ini biasa disebut sleep.
Berkat teknologi bantalan besi di bagian tengahnya, yoyo modern bisa berputar jauh lebih lama dan stabil.
Baca Juga: Bali United Mengamuk! Tekuk Malut United 4-1 di Super League
Perubahan fisik ini melahirkan komunitas pemain profesional yang mulai memandang yoyo sebagai disiplin ketangkasan, mirip dengan skateboard atau juggling. Hal ini kemudian memicu terbentuknya struktur kompetisi resmi, seperti World Yo-Yo Contest.
Di mana para peserta tidak lagi dinilai sekadar dari bisa atau tidak, tetapi berdasarkan kreativitas, kesulitan teknis, gaya panggung, dan kebersihan gerakan.
Kini yoyo telah sepenuhnya bergeser dari mainan pengisi waktu menjadi olahraga mental dan fisik yang menuntut latihan disiplin selama bertahun-tahun. (Athoya Hanin)
Editor : Ina Herdiyana