News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Perbandingan Dzikir dan Wirid: Memahami Esensi Spiritual dalam Ibadah Sehari-hari

Raditya Mubdi • Minggu, 25 Februari 2024 | 19:38 WIB
Ilustrasi Berdzikir
Ilustrasi Berdzikir

RadarBangkalan.id - Dalam perjalanan spiritual, "dzikir" dan "wirid" seringkali menjadi sorotan utama, memandangnya sebagai bentuk pengabdian dan penghormatan kepada Sang Pencipta.

Dari segi bahasa, "dzikir" berasal dari akar kata "dzakara-yadzkuru-dzikran," mengandung makna "menyebut, mengucapkan, mengagungkan, mensucikan, dan mengingat."

Sebaliknya, "wirid" berasal dari akar kata "warada-yaridu-wuruda," seakar kata dengan "wardah" yang berarti "bunga mawar."

Dalam pengertian populer, keduanya sering diartikan sebagai "penyebutan dan penyucian nama Allah SWT," selayaknya sebuah penghormatan yang mendalam.

Termasuk makna "zikir" dan "wirid" adalah membaca Kalam Allah, yakni Al-Qur’an. Kedua praktik ini memiliki tujuan yang sama, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, perbedaan mendasar muncul dalam ketentuan penyebutan dan pengungkapan.

Zikir: Kebebasan dalam Pengingatan Allah

Dalam praktik "zikir," tidak ada ketentuan khusus terkait jumlah, waktu, dan tempat pelaksanaannya. Ini menjadi pilihan yang bebas, dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun tanpa adanya pembatasan.

Bacaan yang dibacakan saat zikir pun tidak ditentukan, bergantung pada apa yang dihafal atau dikuasai oleh individu.

Namun, "zikir" terkesan sebagai praktik yang bersifat temporary. Dilakukan saat hati sedang dalam keadaan khusus atau mood tertentu, seperti ketika menghadapi masalah, memiliki hajat besar, atau sedang dalam keadaan bahagia sebagai ungkapan rasa syukur.

Wirid: Kepermanenan dalam Pengabdian

Di sisi lain, "wirid" memiliki ketentuan yang lebih kaku. Ditentukan jenis bacaan, jumlah, waktu, dan ketentuan pengamalannya.

Wirid memerlukan disiplin dan konsistensi, menjadi suatu rutinitas yang terus-menerus. Dalam keadaan apapun dan di manapun, seseorang yang berpraktik wirid selalu mengamalkan rutinitas wiridnya.

Jika seseorang meninggalkan wiridnya, seperti meninggalkan sebuah kewajiban, rasanya ada sesuatu yang kurang. Oleh karena itu, di mata keagamaan, ahli wirid dianggap lebih kuat ketimbang ahli zikir.

Al-Qur'an: Pendorong Utama Zikir dan Wirid

Dalam perspektif Islam, baik zikir maupun wirid sangat dianjurkan, sebagaimana tercantum dalam ayat Al-Qur'an.

Ayat "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram" (Q.S. al-Ra’d/13:28) memberikan informasi mengenai ketenangan hati melalui zikir dan mengingat Allah SWT.

Ayat lainnya, "Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang" (Q.S. al-Ahdzab/33:42), mendorong untuk meningkatkan zikir menjadi wirid.

Rasulullah SAW sendiri telah mengisyaratkan agar pengamalan zikir dilembagakan dan diamalkan secara terukur menjadi wirid.

Hadis dan Praktik di Masyarakat

Dalam kitab Riyadh al-Shalihin, kumpulan hadis-hadis shahih yang disusun oleh Imam ASl-Nawawi, terdapat riwayat yang menggambarkan bagaimana Rasulullah Saw memberikan petunjuk dalam praktik dzikir.

Para pekerja dan pelayan saat itu diajarkan untuk membaca subhanallah, al-hamdulillah, dan Allahu Akbar masing-masing tiga kali setelah shalat fardhu.

Rasulullah Saw menjamin bahwa kedudukan mereka di mata Allah setara dengan tuan-tuan mereka jika mengamalkan wirid ini setiap usai shalat fardhu.

Tercatat bahwa kelompok pekerja dan pelayan yang melaksanakan wirid ini menarik perhatian tuan-tuan mereka.

Bahkan, tuan-tuan tersebut akhirnya turut mengamalkan wirid sebagai bagian dari ibadah mereka.

Namun, muncul permintaan dari kelompok pekerja dan pelayan agar mereka diberikan suatu praktik lain yang dapat membuat mereka tidak kalah dengan tuan-tuan mereka di akhirat.

Rasulullah Saw menjawab, "Sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya." Hadis ini menjadi penegasan tentang pentingnya meningkatkan kualitas zikir menjadi wirid.

Penutup: Perbandingan yang Mencerahkan

Dalam perjalanan spiritual, baik zikir maupun wirid memiliki keindahan dan makna tersendiri. Zikir memberikan kebebasan dan spontanitas, sementara wirid membawa kepermanenan dan kedisiplinan.

Keduanya merupakan bentuk penghormatan kepada Tuhan yang berbeda, tetapi dalam esensinya, keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni mendekatkan diri kepada Allah SWT. Allahu A’lam.***

Editor : Raditya Mubdi
#Allah SWT #Wirid #zikir