News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Eksistensi Baju Thrift, Gaya Secondhand yang Makin Diminati Kaum Muda

Ina Herdiyana • Senin, 30 Juni 2025 | 20:08 WIB
Foto baju thrift shop. (Jawa Pos)
Foto baju thrift shop. (Jawa Pos)
 
RadarBangkalan.id – Dunia mode terus bergerak cepat. Namun, tidak semua orang tertarik dengan label mewah atau busana baru dari etalase butik.
 
Di sudut pasar, lapak-lapak kaki lima, hingga toko online, baju thrift—alias pakaian bekas layak pakai— justru menemukan tempat tersendiri.
 
Tren ini pelan-pelan berkembang, terutama di kalangan anak muda yang ingin tampil modis tanpa membuat kantong bolong.

Baca Juga: Tanpa Anggaran, DPMD Tetap Gelar Pelatihan BUMDes Juli Mendatang

Awalnya, stigma ”baju bekas” memang lekat dengan kesan lusuh dan murahan. Namun, kini citra itu mulai berubah.

Baju thrift justru dinilai sebagai pilihan cerdas, terutama bagi kaum muda yang sadar gaya dan peduli lingkungan.

Sebab, industri mode cepat (fast fashion) disebut sebagai salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia.

Tren thrift tidak sekadar belanja murah. Di Bangkalan, sejumlah komunitas anak muda mulai menjadikannya sebagai gaya hidup.

Baca Juga: Korban Oknum Polisi Merasa Diabaikan, Uang Tak Kunjung Kembali

Mereka berburu baju vintage, merek langka, hingga edisi terbatas yang sulit ditemukan di pasaran.

Acara thrift market atau bazar barang bekas mulai digelar di beberapa titik, terutama saat akhir pekan atau momen liburan.

Salah satunya pernah diadakan di Alun-Alun Bangkalan dan menarik ratusan pengunjung, kebanyakan pelajar dan mahasiswa.

Meski mulai populer, baju thrift belum sepenuhnya diterima oleh semua kalangan. Ada yang masih memandangnya sebagai pilihan terakhir bagi mereka yang tak mampu beli baru.

Baca Juga: Pemkab Bangkalan Gelontorkan Rp 17 Miliar untuk Revitalisasi Layanan Kesehatan

Namun bagi sebagian anak muda, thrift bukan soal harga—melainkan soal gaya dan nilai.

Pemerintah daerah sendiri belum memperhatikan secara khusus geliat pasar thrift ini. Namun, beberapa pelaku UMKM mulai melihat peluang untuk menjadikan bisnis baju bekas sebagai sumber penghasilan baru, terutama jika dikemas dengan pendekatan kreatif.

Eksistensi baju thrift di Bangkalan menjadi bukti bahwa selera fashion anak muda kini lebih fleksibel dan sadar nilai.

Meski hanya sepotong baju bekas, di tangan anak muda kreatif, pakaian itu bisa menjadi simbol ekspresi diri, sekaligus gerakan kecil untuk keberlanjutan lingkungan. (*)

 
Editor : Ina Herdiyana
#secondhand #eksistensi #thrifting shop #Baju Thrift #kaum muda