Baca Juga: Tanpa Anggaran, DPMD Tetap Gelar Pelatihan BUMDes Juli Mendatang
Awalnya, stigma ”baju bekas” memang lekat dengan kesan lusuh dan murahan. Namun, kini citra itu mulai berubah.
Baju thrift justru dinilai sebagai pilihan cerdas, terutama bagi kaum muda yang sadar gaya dan peduli lingkungan.
Sebab, industri mode cepat (fast fashion) disebut sebagai salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia.
Tren thrift tidak sekadar belanja murah. Di Bangkalan, sejumlah komunitas anak muda mulai menjadikannya sebagai gaya hidup.
Baca Juga: Korban Oknum Polisi Merasa Diabaikan, Uang Tak Kunjung Kembali
Mereka berburu baju vintage, merek langka, hingga edisi terbatas yang sulit ditemukan di pasaran.
Acara thrift market atau bazar barang bekas mulai digelar di beberapa titik, terutama saat akhir pekan atau momen liburan.
Salah satunya pernah diadakan di Alun-Alun Bangkalan dan menarik ratusan pengunjung, kebanyakan pelajar dan mahasiswa.
Meski mulai populer, baju thrift belum sepenuhnya diterima oleh semua kalangan. Ada yang masih memandangnya sebagai pilihan terakhir bagi mereka yang tak mampu beli baru.
Baca Juga: Pemkab Bangkalan Gelontorkan Rp 17 Miliar untuk Revitalisasi Layanan Kesehatan
Namun bagi sebagian anak muda, thrift bukan soal harga—melainkan soal gaya dan nilai.
Pemerintah daerah sendiri belum memperhatikan secara khusus geliat pasar thrift ini. Namun, beberapa pelaku UMKM mulai melihat peluang untuk menjadikan bisnis baju bekas sebagai sumber penghasilan baru, terutama jika dikemas dengan pendekatan kreatif.
Eksistensi baju thrift di Bangkalan menjadi bukti bahwa selera fashion anak muda kini lebih fleksibel dan sadar nilai.
Meski hanya sepotong baju bekas, di tangan anak muda kreatif, pakaian itu bisa menjadi simbol ekspresi diri, sekaligus gerakan kecil untuk keberlanjutan lingkungan. (*)