Radarbangkalan.id - Sebuah video perdebatan antara anggota TNI dan sekelompok orang yang disebut-sebut sebagai bagian dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menjadi viral di media sosial.
Dalam rekaman itu terlihat sekelompok pria meminta jatah bantuan banjir sambil mencatut nama staf khusus gubernur, namun mereka tidak mampu menunjukkan bukti saat diminta verifikasi.
Belakangan, TNI memastikan bahwa narasi yang beredar tidak akurat. Hasil penelusuran membuktikan bahwa peristiwa dalam video tersebut memang terjadi, namun para pelaku bukan kelompok bersenjata GAM. Mereka merupakan dua anggota KPA Meja Ijo Idi Cut di Aceh Timur.
Baca Juga: Fakta Terbaru Kebakaran Gedung Terra Drone: 76 Korban, 22 Meninggal
"Berdasarkan informasi yang telah kami verifikasi, peristiwa dalam video tersebut benar terjadi, namun bukan dilakukan oleh kelompok bersenjata GAM, melainkan oleh dua orang anggota KPA Meja Ijo Idi Cut di Aceh Timur," kata Kapuspen TNI Mayjen TNI (Mar) Freddy Ardianzah dalam keterangannya, Selasa (9/12/2025).
Peristiwa itu terjadi pada 4 Desember 2025, ketika kapal Feri Express Bahari yang membawa logistik bantuan banjir dari Ketua TP PKK Aceh menuju Aceh Tamiang, Langsa, dan Aceh Timur dihentikan oleh dua orang tersebut.
"Kedua orang itu meminta agar sebagian bantuan diturunkan kepada mereka, namun tidak dapat menunjukkan surat perintah atau keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Aceh Timur. Petugas kapal menolak karena distribusi bantuan harus mengikuti prosedur resmi," ujarnya.
Baca Juga: Viral Wanita Muda Ludahi Al-Qur'an di Banyuwangi, Pelaku Ditangkap Polisi
Saat aparat keamanan laut mendekat, kapal langsung melanjutkan perjalanan menuju Kuala Langsa untuk menghindari keributan yang lebih besar.
Freddy menyebut tindakan tersebut sebagai aksi personal yang arogan dan berpotensi menghambat distribusi bantuan kepada warga terdampak banjir.
"TNI menilai tindakan itu sebagai tindakan personal yang arogan dan tidak dapat dibenarkan, karena dapat menghambat distribusi bantuan kepada masyarakat yang terdampak bencana," jelasnya.
TNI bersama aparat keamanan setempat telah mengambil langkah untuk memastikan keamanan jalur distribusi bantuan, termasuk jalur laut, guna mencegah terulangnya kejadian serupa dan menjamin keselamatan para pemberi bantuan.
Baca Juga: Jadwal Libur Nasional dan Cuti Bersama Natal 2025 Resmi dari Pemerintah
TNI juga mengimbau seluruh pihak agar tidak menghalangi upaya kemanusiaan, terutama di tengah situasi darurat.
"Kami mengimbau seluruh pihak untuk tidak menghalangi distribusi bantuan dalam kondisi darurat kemanusiaan.
Baca Juga: Fakta Baru Kasus WO Ayu Puspita: Bayar Lunas Puluhan Juta, Layanan Resepsi Tak Disediakan
Fokus utama kita adalah mempercepat penanganan banjir dan menjamin bantuan sampai kepada masyarakat yang membutuhkan," tegasnya.
Respons Mualem
Gubernur Nagroe Aceh Darussalam Muzakir Manaf atau Mualem menanggapi isu tersebut dengan menyebut bahwa tidak ada laporan terkait kapal bantuan yang dicegat pihak yang mengatasnamakan GAM. Ia menegaskan bahwa bila ada tindakan seperti itu, pasti akan ditindak.
"Kita perlu kesadaran dalam membantu masyarakat. Jangan ambil kesempatan dalam air keruh, karena kita betul-betul menyayangi masyarakat kita yang di pedalaman masih ada yang belum dapat bantuan," katanya.
Baca Juga: Kisah Pilu Penyintas Banjir Aceh Tamiang: “Seperti Kota Zombie” Tanpa Bantuan Selama Sembilan Hari
Mualem memastikan bahwa seluruh bantuan dari luar negeri tetap diterima tanpa ada alasan untuk menolaknya, termasuk bantuan dari Kuala Lumpur berupa obat-obatan dan tenaga dokter.
"Tidak ada larangan, mereka tolong kita masa kita persulit," ujarnya.
Editor : Ubaidillah