RadarBangkalan.id - Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, angkat bicara terkait penjual sate di kawasan Malioboro yang viral karena berteriak histeris dan berguling-guling saat momen penertiban oleh Satpol PP.
Wawan menegaskan, kawasan Malioboro saat ini harus bebas dari aktivitas pedagang kaki lima (PKL) demi memberikan kenyamanan bagi masyarakat maupun wisatawan.
Baca Juga: Fakta Terbaru Kematian Lula Lahfah: Reza Arap Datang ke TKP hingga ART Dengat Erangan Kesakitan
Ia mengakui, memberikan pemahaman kepada PKL bukan perkara mudah dan membutuhkan kesabaran ekstra. Wawan menyebut para pedagang sering kembali muncul setelah petugas meninggalkan lokasi.
“Memang daerah situ tiba-tiba muncul banyak. Petugasnya hilang nanti pada ngumpul lagi,” kata Wawan ditemui di Kompleks Kepatihan, Kota Yogyakarta, Kamis (29/1/2026).
“Aturan harus tetap ditegakkan kita jaga di sana,” imbuhnya.
Baca Juga: Harga Emas Tembus Rp 3 Juta per Gram, Pengamat Prediksi Bisa Naik Rp 4,2 Juta pada 2026
Untuk mencegah PKL kembali berdagang di kawasan Malioboro, patroli di sekitar lokasi disebut akan diintensifkan. Wawan menegaskan area 10 meter dari Malioboro harus bersih sesuai aturan yang berlaku.
“Sekarang menyadarkan PKL sesuai aturan 10 meter dari Malioboro harus bersih,” ujarnya.
Meski demikian, Pemkot Yogyakarta saat ini belum menjatuhkan sanksi. Pemerintah masih memprioritaskan sosialisasi dan edukasi agar para pedagang memahami aturan penataan kawasan.
“Kita sosialisasi mereka memberikan pemahaman dan pengertian,” kata Wawan.
Kronologi Penjual Sate Histeris saat Penertiban
Sebelumnya, sebuah video viral di media sosial memperlihatkan penjual sate ayam di Malioboro berteriak histeris hingga berguling-guling pada Selasa (27/1/2026) malam.
Kepala Bidang Penegakkan Peraturan Perundang-undangan Satpol PP Kota Yogyakarta, Dodi Kurnianto, menjelaskan insiden itu terjadi saat pihaknya melakukan penertiban di kawasan Malioboro, khususnya di Jalan Suryatmajan.
Baca Juga: Polisi Periksa Reza Arap soal Kematian Selebgram Lula Lahfah, Ditanya 30 Pertanyaan
Dodi menegaskan, PKL memang tidak diperbolehkan berjualan di lokasi tersebut. Saat petugas datang dengan tiga mobil, para pedagang langsung berlarian.
“Nah pada saat teman-teman turun kurang lebih 3 mobil itu, kemudian sate-sate yang ada di sana langsung berlarian,” ujar Dodi saat dihubungi, Rabu (28/1/2029).
Dalam situasi tersebut, salah satu nampan milik pedagang sate tumpah. Tak lama kemudian pedagang tersebut menangis hingga berguling-guling, yang akhirnya terekam warga dan menyebar di media sosial.
“Kan lari terus nampannya tumpah berdasarkan informasi di situ orangnya itu memang menantang (dirazia). Akhirnya seperti itu di media sosial. orang-orang di sekitar situ memvideokan,” kata Dodi.
Baca Juga: Barcelona Comeback 4-1 vs Copenhagen, Lolos Langsung ke 16 Besar Liga Champions
Menurut Dodi, keberadaan pedagang sate di kawasan itu juga kerap dikeluhkan wisatawan dan pemilik usaha karena asap serta sampah yang ditimbulkan.
“Betul baik dari pemilik usaha di sana, wisatawan banyak mengeluhkan terkait dengan pedagang sate yang ada di sana.
Juga sampahnya, yang kemarin pemkot jogja melakukan kerja bakti melakukan pembersihan ada ditemukan di situ juga,” ujarnya.
Baca Juga: Napoli vs Chelsea Liga Champions 2025/2026: Conte Tanpa De Bruyne, Palmer Mulai dari Bangku Cadangan
Dodi menambahkan, patroli dan penertiban tidak hanya menyasar pedagang sate, tetapi seluruh PKL yang berjualan di sekitar kawasan Malioboro.
Dalam operasi tersebut, Satpol PP menertibkan delapan PKL di Jalan Suryatmajan dan lima PKL lainnya di Jalan Pasar Kembang.
Baca Juga: Minta Dihukum Mati, Noel Tantang KPK di Sidang Kasus Pemerasan K3
Editor : Ubaidillah