RadarBangkalan.id - Jagat media sosial kembali diramaikan dengan kemunculan video guru bahasa Inggris yang viral di TikTok. Kata kunci terkait video tersebut bahkan sempat menjadi pencarian populer di berbagai platform media sosial dan mesin pencari.
Video yang beredar memperlihatkan seorang wanita berada di dalam ruangan bersama seorang pria. Dalam narasi yang berkembang di media sosial, wanita tersebut disebut sebagai guru bahasa Inggris, sementara pria yang ada di video disebut sebagai muridnya.
Baca Juga: PLN Bangkalan Perkuat Respons Gangguan Listrik Lewat Kolaborasi dengan Tokoh Pemuda
Cuplikan video itu langsung menyita perhatian publik karena menampilkan adegan yang memicu rasa penasaran warganet. Dalam potongan video yang tersebar, wanita tersebut tampak mengenakan pakaian yang disebut mirip seragam ASN, sedangkan pria yang datang mengenakan kemeja putih.
Awalnya, video memperlihatkan seorang pria mengetuk pintu ruangan sebelum dipersilakan masuk oleh wanita tersebut. Setelah masuk, pria itu menyerahkan tugas dan diminta duduk seperti suasana belajar biasa.
Namun situasi berubah ketika pria tersebut menegur pakaian wanita yang disebut terbuka.
Baca Juga: Pelayanan PLN Bangkalan Disorot, Gangguan Listrik Dua Hari Tak Kunjung Ditangani
“Maaf bu, kancing baju ibu terbuka,” ujar pria dalam video yang beredar luas di TikTok dan platform lainnya.
Baca Juga: Kapolres Bangkalan Gandeng Kepala Desa Berantas Curwan, PKDI Siap di Garda Terdepan
Wanita itu kemudian tampak terkejut dan langsung memeriksa bajunya. Setelah adegan tersebut, muncul potongan video lain yang diklaim mengandung unsur dewasa sehingga membuat video semakin viral dan menjadi perbincangan publik.
Diduga Hanya Konten Settingan
Di tengah ramainya pembahasan, banyak netizen menduga video tersebut hanyalah konten settingan yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian publik.
Baca Juga: Cara Cek Penerima PKH dan BPNT Mei 2026, Ada 475 Ribu KPM Baru dari Kemensos
Dugaan itu muncul karena kedua pemeran terlihat menggunakan mikrofon kecil di pakaian mereka. Selain itu, video juga tampak direkam dari beberapa sudut kamera berbeda yang mengindikasikan adanya proses produksi terencana.
Tak sedikit warganet yang menilai video tersebut sengaja dibuat dengan konsep tertentu agar cepat viral di media sosial.
Selain itu, sosok wanita dalam video juga diragukan sebagai guru sungguhan. Netizen menyoroti penampilannya yang dianggap terlalu mencolok, termasuk penggunaan kuku buatan panjang yang dinilai tidak lazim digunakan di lingkungan pendidikan formal.
Baca Juga: Pria di Mojokerto Diduga Bunuh Ibu Mertua dan Lukai Istri karena Cemburu
Banyak pengguna media sosial menduga atribut yang digunakan hanya untuk membangun narasi agar video lebih mudah menarik perhatian publik.
Warganet Diminta Tidak Asal Klik Link
Di tengah viralnya video tersebut, bermunculan berbagai tautan mencurigakan yang mengatasnamakan video guru bahasa Inggris viral.
Pengguna media sosial diminta untuk berhati-hati dan tidak sembarangan mengklik link yang tersebar di kolom komentar maupun pesan pribadi.
Pasalnya, banyak tautan semacam itu berpotensi mengarah ke situs phishing, pencurian data pribadi, hingga malware yang dapat membahayakan perangkat pengguna.
Fenomena video viral memang sering dimanfaatkan pihak tertentu untuk menyebarkan link berbahaya demi memperoleh trafik dan keuntungan tertentu.
Baca Juga: PSI Tak Beri Bantuan Hukum ke Grace Natalie, Kasus Video Jusuf Kalla Jadi Urusan Pribadi
Karena itu, masyarakat diimbau lebih bijak saat menggunakan media sosial serta memastikan sumber informasi yang diterima berasal dari kanal terpercaya.
Bijak Menyikapi Konten Viral
Maraknya video viral di internet menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk lebih cermat dalam menyaring informasi digital.
Selain menghindari tautan berbahaya, pengguna media sosial juga diingatkan untuk tidak mudah percaya terhadap narasi yang belum terverifikasi kebenarannya.
Baca Juga: DPR Soroti Nasib Guru Honorer Jelang 2027, Ketidakpastian Dinilai Masalah Konstitusional
Publik diharapkan tetap mengedepankan etika digital dan tidak ikut menyebarkan konten yang berpotensi menimbulkan dampak negatif, terutama bagi anak-anak dan remaja yang aktif menggunakan media sosial.
Editor : Ubaidillah