RadarBangkalan.id – Eco-enzyme merupakan hasil ekstraksi dari proses fermentasi limbah organik dapur seperti kulit buah dan sisa sayuran yang dicampurkan dengan air serta sumber gula berupa molase atau gula merah.
Cairan ini pertama kali dikembangkan sebagai solusi praktis untuk mengurangi volume sampah organik yang berakhir di tempat pembuangan akhir dan menjadi sumber gas metana yang berbahaya bagi lapisan ozon.
Pembuatan eco-enzyme mengandalkan aktivitas mikro organisme alami dalam kondisi tanpa oksigen selama periode waktu tertentu, biasanya sekitar sembilan puluh hari.
Hasil akhirnya adalah cairan berwarna cokelat gelap dengan aroma asam segar yang kaya akan enzim fungsional serta senyawa antiseptik alami.
Kekuatan utama dari eco-enzyme terletak pada kandungan asam asetat dan asam laktat yang terbentuk selama masa fermentasi, yang secara efektif mampu memecah kotoran dan lemak membandel pada berbagai permukaan.
Sifat biokimia ini menjadikan eco-enzyme sebagai alternatif pembersih rumah tangga yang sangat ramah lingkungan karena tidak mengandung bahan kimia sintetis yang dapat mencemari ekosistem air.
Selain itu, larutan ini memiliki kemampuan untuk menjernihkan air yang tercemar serta menghilangkan bau tidak sedap pada saluran pembuangan penguraian bakteri patogen oleh bakteri baik yang terkandung di dalamnya.
Eco-enzyme juga berperan penting sebagai pupuk cair organik yang mampu meningkatkan kualitas tanah dan merangsang pertumbuhan tanaman secara alami.
Penggunaan eco-enzyme sebagai pestisida nabati juga mulai populer karena aromanya yang khas mampu mengusir hama tanpa merusak struktur jaringan tanaman atau meninggalkan residu beracun pada hasil panen.
Kesadaran masyarakat untuk memproduksi eco-enzyme secara mandiri merupakan langkah kecil namun berdampak besar bagi kelestarian bumi.
Dengan memanfaatkan sisa kulit buah yang biasanya terbuang, setiap rumah tangga dapat memproduksi cairan pembersih sekaligus nutrisi tanaman berkualitas tinggi secara cuma-cuma. (Athoya Hanin)
Editor : Ina Herdiyana