Harga BBM dan LPG Nonsubsidi Naik, Warga Menengah Terancam “Turun Kelas”

RadarBangkalan.id - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan gas LPG nonsubsidi memicu kekhawatiran baru di tengah masyarakat. Lonjakan harga yang mencapai sekitar 60 persen untuk BBM dan 19 persen untuk LPG disebut berpotensi membuat kelompok menengah dan menengah atas “turun kelas”.
Sejumlah pengamat ekonomi menilai kondisi ini dapat mendorong pergeseran besar dari konsumsi energi nonsubsidi ke subsidi. Jika berlangsung lama, situasi tersebut berisiko memicu kelangkaan energi bersubsidi di lapangan.
Baca Juga: Harga BBM Nonsubsidi Naik Drastis, Penjualan Mobil Diesel Terancam Lesu
Dampak nyata sudah dirasakan oleh pelaku usaha makanan. Di Makassar, seorang pemilik rumah makan bernama Arfah mengaku terpaksa beralih dari LPG nonsubsidi ukuran 5,5 kilogram ke tabung 3 kilogram demi menekan biaya operasional.
“Kalau ada bahan bakar kayu, mungkin kami pakai kayu,” ujarnya.
Baca Juga: Persib Bandung Ditahan Arema FC 0-0, Bojan Hodak Soroti Performa Kiper Lawan
Kondisi serupa juga dialami pelaku usaha di Jayapura. Suroto, pemilik rumah makan, mengungkapkan bahwa dirinya biasa menghabiskan hingga 16 tabung LPG 12 kilogram per bulan. Dengan harga mencapai Rp307.000 per tabung, kenaikan ini menjadi beban berat.
Ia mengaku kesulitan mencari alternatif, karena LPG 3 kilogram tidak tersedia di wilayahnya, sementara penggunaan minyak tanah dinilai tidak efisien untuk operasional usaha.
