Radarbangkalan.id - Kejaksaan Agung (Kejagung) telah menetapkan mantan Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong, atau lebih dikenal dengan Tom Lembong,
sebagai tersangka dalam kasus korupsi impor gula tahun 2015-2016. Selain Tom, turut ditetapkan sebagai tersangka Direktur Pengembangan Bisnis PT PPI, CS. Kasus ini diperkirakan menimbulkan kerugian negara sekitar Rp400 miliar.
Setelah tak lagi di pemerintahan, Tom Lembong sempat aktif di Tim Nasional Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (Timnas AMIN) sebagai Co-Captain dalam kampanye Pilpres 2024.
Dalam masa kampanye, Tom terlibat perseteruan dengan dua menteri di kabinet Jokowi, yakni Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut B. Pandjaitan serta Menteri Investasi Bahlil Lahadalia.
Baca Juga: Tom Lembong Ditetapkan Tersangka, Anies: Indonesia Bukan Negara Kekuasaan
Saat berbicara di CNBC Indonesia TV, Tom mengkritik kebijakan hilirisasi nikel Indonesia yang dinilai "ugal-ugalan" karena menyebabkan harga nikel dunia anjlok.
“Yang kita anti adalah hilirisasi yang tadi disebut oleh Pak Muhaimin, yang ugal-ugalan. Berujung pada konyol karena senjata makan tuan,
Baca Juga: Tom Lembong Ditetapkan Tersangka, Anies: Indonesia Bukan Negara Kekuasaan
saking gencarnya menggenjot smelter nikel, kemudian membanjiri dunia dengan suplai nikel sampai harganya anjlok,” ungkap Tom dalam program Your Money Your Vote CNBC Indonesia.
Luhut merespons keras kritikan Tom dan mempertanyakan keilmuan serta integritasnya. "Jadi saya enggak ngerti bagaimana Tom Lembong memberikan statement seperti itu,
bagaimana anda memberikan advice bohong kepada calon pemimpin yang anda dukung," kata Luhut di akun Instagramnya @luhut.pandjaitan. Luhut menegaskan bahwa dirinya meragukan karakter Tom.
Bahlil Lahadalia, yang saat itu menjabat Menteri Investasi, juga mengomentari pernyataan Tom terkait ekspor nikel.
Menurutnya, hilirisasi nikel sangat menguntungkan bagi Indonesia karena memberikan nilai tambah yang signifikan.
“Pada 2017-2018 nilai ekspor ore nikel kita cuma dihargai US$3,3. Tapi di 2022 naik menjadi US$30,3. Ini hasilnya harganya bisa naik 10 kali lipat berkat ekspor nikel akibat hilirisasi," ujar Bahlil dalam acara Market Outlook Trimegah.
Baca Juga: Tom Lembong Ditetapkan Tersangka, Anies: Indonesia Bukan Negara Kekuasaan
Perseteruan ini mempertegas posisi Tom yang kritis terhadap kebijakan hilirisasi nikel, yang tetap menjadi bagian dari visi misi pasangan AMIN, namun dengan pendekatan yang dinilai lebih terukur.