Armuzna—singkatan dari Arafah, Muzdalifah, dan Mina—selalu menjadi sorotan dalam penyelenggaraan ibadah haji. Ketiga lokasi tersebut dikenal sebagai titik krusial yang menyimpan berbagai tantangan, mulai dari suhu ekstrem yang menembus 50 derajat Celsius, kepadatan luar biasa, hingga aktivitas fisik yang menguras tenaga. Tak heran jika fase ini sering disebut sebagai “zona merah” haji karena tingginya risiko gangguan kesehatan dan kematian jemaah.
Bahkan, berdasarkan proyeksi dari sistem kecerdasan buatan (AI) milik pemerintah Arab Saudi, diperkirakan ratusan jemaah Indonesia berisiko wafat selama berada di Armuzna. Namun kenyataannya, prediksi tersebut jauh dari realita.
Menurut data terbaru yang dirilis pada Sabtu malam (7 Juni 2025) pukul 23.00 waktu Arab Saudi, hanya sembilan jemaah Indonesia yang meninggal dunia selama puncak ibadah haji, khususnya saat wukuf di Arafah pada Kamis (5 Juni). Ini merupakan capaian luar biasa, mengingat tekanan dan risiko yang sangat tinggi selama fase tersebut.
Prof. Taruna Ikrar, anggota Amirul Hajj dan juga Kepala BPOM RI, menyampaikan bahwa prediksi AI yang menyebut potensi ratusan kematian tidak terjadi berkat doa dan kerja keras petugas di lapangan, khususnya tenaga kesehatan.
“Petugas medis bekerja tanpa mengenal lelah, bahkan mengabaikan kebutuhan pribadi mereka demi keselamatan jemaah,” ujar Taruna dalam keterangannya di Mina.
Keberhasilan ini tak lepas dari pendekatan preventif dan edukatif yang diterapkan sebelum jemaah memasuki Armuzna. Tim kesehatan secara aktif memberikan penyuluhan, membagikan suplemen dan vitamin, serta memantau secara ketat jemaah dengan komorbid atau risiko tinggi. Jemaah lansia juga diprioritaskan untuk dievakuasi lebih awal jika diperlukan.
Data dari Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) menunjukkan bahwa sebagian besar jemaah wafat terjadi sebelum memasuki Armuzna, bukan saat fase puncak haji. Sebagai perbandingan, tahun 2024 mencatat 11 jemaah wafat di Arafah, dan pada 2023 terdapat 13 kematian di lokasi yang sama.
Langkah teknis lain yang mendukung keberhasilan ini adalah pengaturan jadwal keberangkatan malam hari guna menghindari suhu siang yang ekstrem, serta pengendalian mobilitas jemaah untuk mengurangi risiko kelelahan dan heat stroke.
Secara keseluruhan, hingga hari ke-8 musim haji, jumlah jemaah Indonesia yang meninggal dunia tercatat 175 orang, turun dibandingkan 190 orang pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini menjadi bukti bahwa manajemen dan pelayanan haji Indonesia semakin matang dan responsif terhadap kondisi di lapangan.
Ke depan, pendekatan berbasis pencegahan dan teknologi seperti ini diharapkan dapat menjadi standar baru dalam perlindungan jemaah haji, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan penderita penyakit kronis.
“Risiko tetap ada, tapi tahun ini bisa ditekan secara signifikan. Ini pencapaian luar biasa,” pungkas Prof. Taruna.
Editor : Mohammad Sugianto