
Biasanya, kemarau adalah sahabat. Sahabat bagi petani. Eeeitt petani apa itu? siapa lagi kalau bukan petani tembakau. Bagi mereka, Musim kemarau adalah musim harapan. Langit cerah, tanah hangat, angin kering. semua itu adalah tanda-tanda alam bahwa sudah waktunya untuk menanam. Yah menanam si “daun emas” tentunya.
Tapi sekarang, kemarau tak lagi memberi kepastian. Justru menghadirkan kegelisahan yang tak bisa ditawar. Keluhan petani banyak terdengar. Petani yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) se Jawa Timurpun banyak yang share tentang kondisi cuaca.
Cuaca ekstrim. Hujan dimana-mana. Semua di Jawa Timur. Tidak bisa diprediksi. Hari ini panas, besok hujan tiba-tiba datang menyapa. Mereka mengeluh?tentu tidak. Karena mereka sudah tahu tahun ini musim kemarau basah. Itu setelah BMKG memberi informasi cuaca yang dirilis 17 Mei lalu.
Meski demikian, mereka bingung, harus dimulai kapan tanam tembakau, sementara benih sudah terlanjur disemai, dan terus membesar. Sementara hal yang paling dibutuhkan tembakau adalah kestabilan. Ia tak tahan pada keraguan.
Petani tembakau itu bukan sembarang petani. Mereka hidup dari perhitungan waktu yang presisi. Dari pengetahuan yang diwariskan turun-temurun. Tanah dibaca dengan rasa. Angin dirasakan dengan tubuh. Tapi apa daya, semua ilmu itu jadi ragu kalau langit tak menentu.
Musim kemarau sekarang justru berubah jadi musim gelisah. Tanaman bisa rusak kalau salah waktu tanam. Bibit bisa sia-sia. Belum lagi harga pupuk yang melambung, ongkos tanam yang naik, dan tak ada jaminan hasil panen akan laku dengan harga layak.
Mari sama-sama katakan dengan tegas: petani butuh perlindungan. Butuh kehadiran negara, bukan sekadar janji. Informasi cuaca harus sampai ke pelosok desa. Bukan hanya dalam bentuk angka, tapi dipahami petani.
Kalau perlu, kita bentuk relawan cuaca di setiap kelompok tani. Supaya mereka tahu kapan waktu terbaik untuk tanam dan kapan harus bersabar.
Musim kemarau tidak seharusnya jadi musim gelisah. Tapi kalau negara terus membiarkan petani berjalan sendiri, maka gelisah itu akan jadi musim tetap. Jangan sampai yang dulu disebut musim panen, berubah jadi musim penyesalan. Kita semua harus bergerak—bukan nanti, tapi sekarang.
Tembakau ini bukan soal selera orang kota. Ini soal dapur yang harus tetap mengepul. Soal anak petani yang tetap bisa sekolah. Soal keluarga yang tetap punya penghasilan. Kalau tembakau dijauhi, lalu siapa yang peduli pada petani?
Salam Petani Muda!!!



