Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Air Susu Dibalas Air Tuba

M
Penulis: Mohammad Sugianto❯
Ilustrasi: Seorang ibu menangis karena dibuang oleh anaknya ke panti jompo
Ilustrasi: Seorang ibu menangis karena dibuang oleh anaknya ke panti jompo

Oleh: Mohammad Sugianto (Wartawan Senior Jawa Pos Radar Madura)


Advertisement

Baru-baru ini kita dikejutkan oleh sebuah kejadian yang melampaui batas nalar dan rasa. Sebuah cerita nyata, tapi rasanya seperti fiksi murahan: seorang anak “membuang” ibu kandungnya ke panti jompo.

Ya, kita tidak salah baca. Bukan karena tak ada rumah. Bukan karena tidak mampu. Tapi—katanya—karena “tidak mau repot.”

Namanya Nasikah. Umurnya 74 tahun. Tubuhnya lumpuh. Hanya bisa berbaring. Tidak bisa berdiri, apalagi berjalan. Tapi yang lebih tragis: ia tidak hanya lumpuh secara fisik, tapi juga lumpuh secara nasib.

Advertisement

Di masa mudanya, barangkali ia wanita biasa. Yang setiap hari memasak nasi, menyuapi anak, mencuci popok, merawat anaknya Ketika demam. Yang menahan lapar agar anaknya bisa makan kenyang. Seorang ibu seperti berjuta ibu lain di negeri ini. Tapi hari itu, yang ia dapatkan hanyalah lorong sepi panti jompo—dan titipan pesan yang menyayat hati: “Jangan beri kabar, meski dia meninggal sekalipun.”

Ini bukan hanya pembuangan. Ini amputasi emosional. Pemutusan hubungan darah yang dibungkus dalam diam. Sebuah keputusan yang dingin, nyaris beku. Bahkan serigala pun menjaga induknya saat tua. Ini lebih rendah dari naluri hewan.

Bukankah kita sudah tahu jika surga itu di telapak kaki ibu. Tapi bagaimana kalau kaki itu justru menendang ibunya sendiri keluar dari hidupnya?

Advertisement

Pertanyaannya bukan lagi tentang moral. Tapi tentang apa yang sedang terjadi dengan dua hati anak manusia itu?Seorang ibu pula. Mereka punya anak pula. Bukankah dulu mereka juga anak-anak. Anak yang tumbuh dari peluh ibunya, Tapi kini menutup pintu dan telinga mereka rapat-rapat. Seolah-olah tidak pernah ada pelukan. Tidak pernah ada nyanyian nina bobo.

Untung, dunia belum benar-benar kehilangan nurani. Netizen menyerbu. Kolom komentar media sosial dipenuhi amarah. Nama anak-anak Nasikah telanjang di depan publik. Dan akhirnya mereka menjemput ibunya kembali.

Tapi, mari kita jujur: apakah Nasikah benar-benar pulang? Ataukah dia hanya berpindah dari satu ruang asing ke ruang dingin lainnya? Dari bangsal panti ke rumah yang tidak lagi bisa disebut rumah?

Kita tidak tahu. Dan mungkin, hanya Tuhan yang tahu.

Saya hanya ingin menuliskan pesan ini sebagai pengingat:

Jangan sekali-kali bermain dengan luka seorang ibu. Jangan menantang langit dengan membiarkan air matanya jatuh sia-sia.

Kita boleh punya mobil mewah. Gelar panjang. Kantor megah. Tapi satu doa ibu yang dihina bisa menjadi bom waktu yang tidak terdengar detiknya. Ia meledak diam-diam. Tapi kehancurannya bisa abadi.

Semoga rumah yang dijanjikan anak-anak Nasikah bukan sekadar bangunan.

Tapi benar-benar rumah. Tempat hati bisa pulang. Tempat kasih tidak lagi diminta, tapi diberikan. Dengan utuh. Tanpa syarat.

Advertisement

Artikel Terkait

Polresta Sidoarjo Ungkap 147 Kasus Narkoba, 180 Tersangka Diamankan dalam 3 Bulan

Polresta Sidoarjo Ungkap 147 Kasus Narkoba, 180 Tersangka Diamankan dalam 3 Bulan

Polresta Sidoarjo mengungkap 147 kasus narkoba selama Agustus-Oktober 2026. Sebanyak 180 tersangka ditangkap dengan barang bukti sabu, ekstasi, ganja, dan puluhan ribu pil LL.

Kebakaran Pabrik Tahu di Tropodo Sidoarjo, Pemadaman Terkendala Pasokan Air

Kebakaran Pabrik Tahu di Tropodo Sidoarjo, Pemadaman Terkendala Pasokan Air

Home industri tahu di Tropodo, Krian, Sidoarjo, terbakar hebat pada Rabu malam. Empat unit damkar dikerahkan dan pemadaman sempat terkendala pasokan air.

Mayat Pria Peluk Honda CBR Ditemukan di Parit Sidoarjo, Diduga Tewas 6 Hari

Mayat Pria Peluk Honda CBR Ditemukan di Parit Sidoarjo, Diduga Tewas 6 Hari

Mayat pria asal Probolinggo ditemukan memeluk Honda CBR 150 di parit Jabon, Sidoarjo. Polisi menduga korban tewas akibat kecelakaan tunggal sekitar enam hari sebelumnya.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer