Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Becak Motor dan Uang Tasyakuran yang Mengusik

M
Penulis: Mohammad Sugianto❯
Mohammad Sugianto
Mohammad Sugianto

Oleh: Mohammad Sugianto Wartawan senior Jawa Pos Radar Madura

Radarbangkalan.id-Prabowo memberi. Lewat tangan Bupati Bangkalan. Warga penerima: para pebecak. Tapi angin baik itu tersengat bau yang tidak sedap: Rp 200 ribu. Bukan pungli, katanya. Tapi tasyakuran.


Advertisement

Ah, kata-kata itu terlalu sering disulap jadi jubah suci untuk sesuatu yang baunya justru amis.

Presiden memberi becak motor. Gratis. Itu narasinya. Tapi di lapangan, suara-suara lain muncul. Rame. Katanya ada yang dimintai uang. Nilainya Rp 200 ribu. Bukan tebusan, katanyasih. Tapi untuk syukuran. Kalau tidak mau? Tidak apa-apa. Katanya. Sukarela.

Sayangnya, tidak semua yang “Sukarela” terasa benar-benar bebas dari tekanan.

Advertisement

Ini bukan soal nominal. Tapi soal rasa. Rasa kepercayaan rakyat kecil kepada negara. Rasa hormat mereka pada pemimpin yang memberi bukan untuk diminta balik.

Rakyat kecil itu tak pernah menuntut banyak. Diberi becak motor, mereka syukur. Diberi nasi bungkus, mereka doakan berkah. Tapi begitu kebaikan itu ditunggangi oleh siapa pun itu — maka yang dirusak bukan hanya kepercayaan. Tapi juga martabat pemberi: Presiden.

Apa susahnya membuat syukuran tanpa minta dari penerima bantuan? Bukankah di negeri ini terlalu banyak pejabat yang rela “Mencicipi” panggung seremonial, bahkan untuk potong pita satu meter? Tapi giliran disorot soal Rp 200 ribu, cepat-cepat bilang: bukan pungli. Hanya sukarela. Hmmmmmmmsss.

Advertisement

Ada voicenote suara. Viral. Isinya menyanggah ada pungutan. Katanya itu fitnah. Tapi justru mengiyakan bahwa “Meminta” itu memang terjadi.

Dalam logika rakyat kecil, kalau sudah diminta oleh panitia, ya tentu dianggap kewajiban. Tidak semua punya keberanian menolak. Apalagi di hadapan panitia yang memegang kunci surga ehh maaf "kunci bantuan".

Prabowo tentu tidak tahu. Beliau tidak kirim becak motor untuk dikomersilkan dalam bentuk tasyakuran berbayar. Yang ia niatkan adalah menggerakkan ekonomi kecil. Mengangkat sedikit kehidupan tukang becak yang tertindih zaman dan kalah oleh motor online.

Tapi niat baik itu bisa tercoreng. Hanya karena Rp 200 ribu.

Pemerintah Bangkalan, sudah menyerahkan bantuan itu dengan wajah lega. Ia menjadi kepanjangan tangan negara. Tapi apakah ia tahu ada “Kutipan syukuran” setelah itu?

Atau pemangku kebijakan hanya diam — menunggu badai isu ini reda?

Pemerintah daerah tidak cukup hanya membantah. Ia harus membersihkan. Menginvestigasi. Memastikan tidak ada satu pun tangan-tangan liar yang mengotori niat baik pemimpinnya.

Karena kalau tidak, ini bukan cuma soal becak motor lagi. Tapi soal bagaimana kekuasaan menyentuh rakyat miskin — dengan tangan yang bersih, atau dengan tangan yang penuh amplop tipis berkedok syukur.

Dan rakyat Bangkalan... mereka mungkin tidak marah. Tapi mereka diam dan mengingat. Kadang, itu lebih menakutkan.

Advertisement

Artikel Terkait

Pengelolaan Aset Daerah Bangkalan Bakal Diperketat, Pedoman Barang Milik Daerah Diubah

Pengelolaan Aset Daerah Bangkalan Bakal Diperketat, Pedoman Barang Milik Daerah Diubah

Pemkab Bangkalan menyesuaikan pedoman pengelolaan BMD dengan regulasi terbaru untuk memperkuat ketertiban, keamanan, dan transparansi aset.

Gempur TBC di Desa, Dinas Kesehatan Bangkalan kolaborasi Program FC-SDS Turunkan X-Ray Berbasis AI

Gempur TBC di Desa, Dinas Kesehatan Bangkalan kolaborasi Program FC-SDS Turunkan X-Ray Berbasis AI

Gempur TBC di Desa, Dinas Kesehatan Bangkalan kolaborasi Program FC-SDS Turunkan X-Ray Berbasis AI

Pemkab Buka Seleksi Direksi PT Sumber Daya, Libatkan Dua Guru Besar untuk Jamin Profesionalitas

Pemkab Buka Seleksi Direksi PT Sumber Daya, Libatkan Dua Guru Besar untuk Jamin Profesionalitas

Pemerintah Kabupaten Bangkalan mulai membuka proses rekrutmen direksi PT Sumber Daya (Perseroda).

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer