Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tembakau: Lebih dari Sekadar Tanaman

M
Penulis: Mohammad Sugianto❯

 

Petani tembakau saat mencabut bibit tembakau untuk dipindah tanam
Petani tembakau saat mencabut bibit tembakau untuk dipindah tanam


Advertisement

Oleh : Mohammad Sugianto wartawan senior Jawa Pos Radar Madura

Saya dulu kira, belajar tembakau itu soal menanam. Ternyata salah.

Tanah sama, bibit sama, lahan sama—hasilnya bisa berbeda. Hanya karena musim berbeda. Kemarau bikin tanah keras, pupuk sulit diserap. Hujan bikin tanah gembur, tapi pupuknya hanyut. Maka cara memperlakukan tanah pun ikut berubah. Tidak ada rumus tetap. Semua tergantung musim. Tergantung cuaca. Bahkan tergantung hari.

Advertisement

Saya pernah ikut pelatihan. Teorinya: pemupukan tembakau itu dua kali. Pertama umur 7–10 hari setelah tanam. Kedua, umur 20–23 hari.

Tapi itu di atas kertas.

Di lapangan, beda. Petani yang benar-benar menanam tembakau tidak pernah persis mengikuti teori itu. “Yang bikin teori itu tidak pernah nanam tembakau, Mas,” kata seorang petani yang saya ajak berkolaborasi tahun ini.

Advertisement

Saya terdiam. Dan mulai paham.

Bertani tembakau ternyata bukan sekadar bisa menanam. Tapi juga bisa membaca waktu.

Salah waktu, tamat. Tanam lebih awal, harga bisa selamat. Telat sebulan saja, harga bisa anjlok. Gudang tembakau punya jam kerja sendiri. Begitu tutup, tembakau tidak lagi punya harga.

Emas pun kalau dijual ke pasar besi tua tetap dihargai kiloan.

Dari situ saya belajar. Kualitas tembakau tidak hanya ditentukan oleh teknik. Tapi juga oleh kalender.

Petani senior sudah hafal itu. Mereka bukan hanya ahli membajak, menanam, atau memupuk. Mereka ahli membaca langit. Menghitung hari. Menakar kapan gudang akan tutup.

Saya? Baru sebatas tahu. Belum lihai.

Tapi pelajaran penting sudah saya dapat: bertani tembakau mirip berdagang. Bukan soal siapa yang paling rajin. Tapi siapa yang paling tepat waktu.

Jadi, tembakau bukan hanya urusan tanah. Ia urusan manajemen. Manajemen musim, pupuk, waktu, sampai harga.

Dan mungkin di situlah rahasia kenapa tembakau disebut daun emas. Bukan karena warnanya. Tapi karena petaninya harus berpikir secerdas pedagang emas: jeli, cermat, dan tepat.

 

Advertisement

Artikel Terkait

Cerutu Jember Tembus 45 Negara, Gus Fawait Dorong Hilirisasi Tembakau

Cerutu Jember Tembus 45 Negara, Gus Fawait Dorong Hilirisasi Tembakau

Jember disebut telah mengekspor cerutu ke hampir 45 negara. Gus Fawait mendorong hilirisasi tembakau sekaligus memperkuat perlindungan petani.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer