![Link video Winda Can main pakai parfum. [TikTok]](https://cdn-jpr.jawapos.com/images/41/2026/02/10/Screenshot-2026-02-10-at-63511AM-3513968307.png)
RadarBangkalan.id - Jagat maya kembali gempar dengan munculnya nama Winda Can, seorang pedagang jus yang mendadak menjadi trending topic di berbagai platform media sosial seperti TikTok, X (Twitter), hingga grup percakapan Telegram.
Viralitas yang semula bernuansa positif berubah menjadi kontroversi setelah tersebarnya konten pribadi yang diduga bocor. Peristiwa ini pun memicu sorotan publik sekaligus peringatan akan bahaya eksploitasi digital di era media sosial.
Awalnya, nama Winda Can dikenal melalui konten keseharian yang menampilkan sosok pedagang jus yang ramah dan sederhana. Berjualan jus di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, dengan nama asli Winda Sari Safitri, ia kerap tampil sebagai pedagang berhijab dengan citra bersahaja.
Popularitasnya terlihat dari ramainya pencarian dengan kata kunci seperti “winda can viral jualan jus mangga” atau “winda can jualan jus mangga” yang membanjiri TikTok dan mesin pencari. Ketertarikan publik kala itu lebih tertuju pada aktivitas jualannya yang dinilai positif.
Namun, perhatian publik berubah drastis setelah beredarnya sebuah video pribadi berdurasi sekitar 7 menit 45 detik. Video tersebut menampilkan aktivitas pribadi Winda dengan sebuah botol parfum dan menyebar luas di media sosial.
Seiring itu, muncul gelombang pencarian baru dengan kata kunci seperti “winda can parfum”, “winda can main pakai parfum”, “winda can blunder”, hingga variasi nama seperti “winda chan”. Situasi ini membuat nama Winda Can semakin ramai diperbincangkan.
Penyebaran video tersebut tidak hanya menyeret nama Winda ke dalam pusaran kontroversi, tetapi juga membuka celah bagi praktik eksploitasi dan kejahatan siber. Sejumlah akun tidak bertanggung jawab menyebarkan cuplikan video dengan klaim memiliki versi lengkapnya.
Modus yang digunakan terbilang umum, yakni memancing rasa penasaran dengan potongan video, lalu mengarahkan pengguna ke tautan tertentu. Tautan tersebut berpotensi berisi phishing untuk mencuri data pribadi, malware, atau bahkan mengarah ke situs judi online ilegal.
Netizen diimbau untuk lebih waspada dan tidak sembarangan mengklik tautan yang beredar di kolom komentar maupun pesan pribadi. Keamanan digital perlu menjadi prioritas di tengah maraknya penyalahgunaan isu viral.
Kasus Winda Can kembali menyoroti tipisnya batas antara ruang privat dan ruang publik di era digital. Penyebaran konten pribadi tanpa izin merupakan pelanggaran hukum dan etika, serta berpotensi menimbulkan dampak psikologis bagi korban.
Sebagai pengguna media sosial, masyarakat diingatkan untuk bersikap kritis, tidak ikut menyebarkan konten eksploitatif, serta melaporkan unggahan yang melanggar aturan. Menghentikan penyebaran menjadi salah satu cara memutus rantai eksploitasi digital.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Winda Can atau pihak yang mewakilinya terkait viralnya konten tersebut.
Pencarian namanya di internet kini terbagi antara kenangan akan konten jualan jus yang positif dan gelombang pencarian terkait video pribadi yang tersebar tanpa izin.



