News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Tragedi Carok di Bangkalan Bukan Bagian Tradisi ? Ini Penjelasan Budayawan Madura Soal Carok

Azril Arham • Kamis, 25 Januari 2024 | 00:56 WIB

 

Tanggapan Budayawan Madura Soal Tragedi Carok di Bangkalan
Tanggapan Budayawan Madura Soal Tragedi Carok di Bangkalan

RadarBangkalan.id - Carok, sebuah istilah yang telah menggema di tengah masyarakat Madura akhir-akhir ini, menjadi sorotan setelah terjadi tragedi Carok massal di Kecamatan Tanjung Bumi, yang menelan korban hingga empat orang pada Jumat, 12 Januari 2024.

Namun, Hidrocin Sabarudin, seorang Budayawan Madura, membawa pandangan yang mengejutkan dengan mengungkap bahwa Carok sebetulnya bukanlah sebuah tradisi dan mungkin sudah kehilangan keberadaannya.

Menurut Sabarudin, Carok yang kini sering terjadi lebih mirip dengan pengeroyokan daripada tradisi sejati.

Dalam wawancara dengan tvOneNews pada 23 Januari 2024, ia mengemukakan, "Carok ini sudah tidak ada, sudah hilang. Nama Carok itu bukan Carok lagi, sekarang di mana-mana terjadi pengeroyokan."

Mendalaminya lebih jauh, Budayawan Madura ini menjelaskan bahwa Carok sebenarnya bukanlah tradisi jika tidak memiliki makna kebaikan bagi masyarakat.

Istilah Carok semata merupakan sinonim dari perkelahian khusus yang terjadi di Madura.

Melacak sejarahnya hingga abad ke-16, Carok pada awalnya merupakan penyelesaian akhir untuk memulihkan harga diri seseorang yang merasa dipermalukan di depan umum.

Sabarudin menyoroti peribahasa Madura, 'Ethembang pote mata, angoan apotea tolang,' yang secara harfiah berarti lebih baik mati daripada malu di depan banyak orang.

Carok dijalankan ketika penyelesaian melalui permintaan maaf tidak cukup dan tidak bisa dimediasi oleh pihak ketiga, termasuk tokoh agama, setelah tiga kali percobaan.

Ini menjadi jalan satu-satunya untuk mengembalikan harga diri melalui duel Carok.

Dalam proses Carok, terdapat aturan-aturan tertentu dan keduabelah pihak keluarga harus mengetahui bahwa akan ada duel demi harga diri.

Sabarudin menjelaskan, "Agreement dibuat setelah tahu bahwa akan ada Carok. Tidak ada balas dendam, hanya masalah harga diri."

Namun, Budayawan Madura menyatakan bahwa pergeseran telah terjadi. Zaman dulu, pelaku Carok yang menang dihormati dan akan mengantarkan senjata kepada keluarga yang kalah sambil meminta maaf.

Namun, situasinya kini berbeda. Menurut Sabarudin, kemenangan dalam pertikaian semacam itu tidak lagi mendapatkan penghargaan, karena sekarang Indonesia adalah negara hukum dan hal itu dapat mengakibatkan kasus pidana.

Perubahan ini, menurutnya, terlihat jelas karena adanya faktor pendidikan dan agama. Sabarudin berharap agar masyarakat tidak lagi menggunakan Carok sebagai satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah.

"Ada jalan-jalan media lain yang bisa menjadi solusi dalam menghadapi permasalahan," tegasnya.

Dengan demikian, cerita tentang Carok di Madura tidak hanya mencerminkan sejarah tradisional, tetapi juga menggambarkan perubahan sosial dan budaya yang terjadi seiring berjalannya waktu. ***

Editor : Azril Arham
#carok massal #madura #Carok Paling Mengerikan #carok #bangkalan #budayawan #Carok Bangkalan #tradisi carok