RadarBangkalan.id - Guncangan carok di Bangkalan, Madura, tidak hanya mengungkap bisnis senjata online yang dijalankan oleh pelaku kejam, Wardi, namun juga membawa kita ke dunia yang lebih gelap dan mistis.
Dari masa lalunya sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia hingga terlibat dalam transaksi jual beli senjata tajam secara daring,
jejak bisnis mengerikan Wardi menjadi sorotan utama setelah terjadinya tragedi carok 2 lawan 4 di Desa Bumi Anyar.
Pada awalnya, perjalanan Wardi sebagai TKI di Malaysia terasa sebagai pintu masuk menuju dunia bisnis yang lebih kelam.
Namun, sebelum aksi carok tragis yang menyebabkan empat korban jiwa tersebut, terungkap bahwa Wardi telah terlibat dalam dunia bisnis yang lebih kompleks dan gelap dari yang dapat diantisipasi.
Wardi dan Hasan Busri, kakaknya, kini harus mendekam di balik jeruji besi sebagai tersangka dalam kasus carok yang menggemparkan di Kecamatan Tanjung Bumi.
Mat Tanjar, Mat Terdam, Najehri, dan Hafid menjadi korban fatal, sementara keduanya dihadapkan pada pasal pembunuhan berencana 340 dan 338 dengan ancaman hukuman seumur hidup, sesuai dengan ungkapan Kapolres Bangkalan, AKBP Febri Isman Jaya.
Konsekuensi dari perbuatan kejam mereka mendorong istri kedua Wardi untuk memikul beban menjadi tulang punggung keluarga.
Dengan tiga anak dari pernikahan Hasan dan dua anak dari pernikahan Wardi, keluarga mereka kini terjebak dalam ketidakpastian dan kegelisahan yang menyelimuti.
Ifa, istri Wardi, membocorkan fakta mengejutkan terkait sejarah pekerjaan suaminya sebelum terlibat dalam carok.
Wardi, yang sebelumnya dikenal sebagai TKI di Malaysia, ternyata menjalankan berbagai bisnis.
Media sosialnya memperlihatkan bahwa Wardi pernah bekerja sebagai pelayan restoran, security di Malaysia, dan bahkan sebagai sopir di luar negeri.
Namun, yang lebih mencengangkan adalah keterlibatannya dalam bisnis online yang melibatkan penjualan senjata tajam.
Melalui postingan di media sosialnya, Wardi memamerkan berbagai senjata, mulai dari celurit hingga pisau, bahkan senjata berukuran kecil yang umumnya dijadikan jimat.
Semua ini dijual dengan harga bervariasi, menciptakan bayang-bayang kelam di balik rutinitas sehari-harinya.
Meskipun terlibat dalam bisnis yang tak lazim, bisnis senjata tersebut sepertinya sudah ditinggalkan oleh Wardi sejak tahun 2020.
Postingan terakhirnya mengenai senjata tajam menjadi catatan terakhir dari sisi bisnis yang kini menjadi beban dalam perjalanan hukumnya.
Riwayat pekerjaan yang gelap dan kompleks dari pelaku carok Bangkalan, Wardi, membuka jendela ke dunia bisnis yang penuh misteri dan tak terduga.
Catatan hitam ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kisah tragis carok, merangkum perjalanan dari TKI di Malaysia hingga pedagang senjata online yang menciptakan ketakutan di masyarakat.***
Editor : Raditya Mubdi