RadarBangkalan.id – Pembukaan Bazar Takjil Ramadan ke-16 di Bangkalan Sabtu, (1/3), yang diinisiasi oleh Jawa Pos Radar Madura (JPRM) bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan, memicu perdebatan mengenai efektivitas strategi pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di daerah.
Meskipun acara ini menampilkan antusiasme pelaku usaha lokal dengan partisipasi 150 UMKM, muncul pertanyaan kritis mengenai kesiapan infrastruktur dan keberlanjutan program.
Bupati Bangkalan, Lukman Hakim, menekankan peran bazar takjil sebagai stimulus ekonomi.
Baca Juga: Bazar Takjil Ramadan ke-16 Bangkalan: Momentum Kebangkitan Ekonomi UMKM Lokal
Namun, pengakuan Manajer Event JPRM, Mohammad Sugianto, mengenai kendala penataan stan akibat lonjakan pendaftar, mengindikasikan adanya kelemahan dalam perencanaan dan koordinasi.
Fenomena ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan cerminan dari tantangan yang lebih besar dalam pengembangan UMKM di daerah: ketidakmampuan infrastruktur untuk mengakomodasi pertumbuhan pesat.
Analisis lebih lanjut diperlukan untuk memahami dampak ekonomi riil dari bazar takjil ini.
Baca Juga: Puasa Bukan Sekadar Ibadah, Ini 5 Manfaatnya bagi Kesehatan Mental
Apakah peningkatan omzet selama Ramadan berdampak pada keberlanjutan usaha UMKM setelahnya?
Bagaimana Pemkab Bangkalan mengukur efektivitas program ini dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan?
Selain itu, pernyataan Bupati Lukman Hakim mengenai pentingnya peningkatan kualitas produk dan layanan UMKM perlu dikonkretkan dengan kebijakan yang jelas.
Dibutuhkan program pelatihan, pendampingan, dan akses pembiayaan yang memadai agar UMKM lokal dapat bersaing di pasar yang lebih luas.
Baca Juga: Puasa Hari Pertama: Waspadai Hal-hal yang Bisa Membatalkan
Bazar Takjil Ramadan ke-16 ini menjadi momentum untuk merefleksikan kembali strategi pemberdayaan UMKM di Bangkalan.
Dibutuhkan pendekatan yang lebih holistik, yang tidak hanya fokus pada penyelenggaraan acara sesaat, tetapi juga pada pembangunan ekosistem yang kondusif bagi pertumbuhan UMKM yang berkelanjutan. ***
Editor : Abdul Basri