News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Oknum Polisi Diduga Peras Pasangan Muda di Sidoarjo, Minta Rp 7 Juta ala Damai di Tempat”

Mohammad Sugianto • Selasa, 24 Juni 2025 | 15:04 WIB
Korban menunjukkan bukti laporan dari Propam
Korban menunjukkan bukti laporan dari Propam

SURABAYA,Radarbangkalan.id-Citra institusi Polri kembali tercoreng. Ironisnya, hal itu terjadi hanya beberapa hari jelang peringatan Hari Bhayangkara ke-79. Seorang oknum polisi aktif di Surabaya diduga melakukan pemerasan terhadap sepasang anak muda di wilayah Sidoarjo. Modusnya: mengaku tengah melakukan operasi gabungan dan meminta uang jutaan rupiah demi “damai di tempat”.

Korbannya adalah Kirana Vanessya (23), mahasiswi asal Tambak Sumur, Sidoarjo, dan rekannya, Rayhan (23). Keduanya baru saja pulang dari menghadiri pesta pernikahan di Krian, Kamis malam (19/6). Sekitar pukul 22.00 WIB, mobil yang mereka tumpangi bersenggolan dengan pengendara motor di exit tol Tambak Sumur.

“Si ibu pengendara motor tiba-tiba belok kiri. Mobil anak saya nabrak pelan. Sudah minta maaf, saling pengertian, dan tidak ada luka. Selesai, secara kekeluargaan,” tutur Djumadi (60), ayah Vanessya.

Namun insiden kecil itu berubah menjadi pengalaman buruk. Saat Vanessya dan Rayhan menepi sebentar untuk mengecek kondisi mobil, tiba-tiba datang dua pria mengendarai motor. Satu berseragam polisi, satu lagi berbaju sipil. Mereka mengaku dari tim gabungan TNI, Polri, Satpol PP, dan wartawan.

Tanpa alasan jelas, mereka menuduh pasangan muda itu melakukan perbuatan tak senonoh di dalam mobil. Oknum polisi lalu mengambil alih kemudi dan menyuruh Rayhan pindah ke kursi penumpang. Sedangkan Vanessya diminta duduk di jok belakang.

“Katanya mau dibawa ke Polda Jatim untuk klarifikasi, tapi malah diajak muter-muter keliling Surabaya. Dari situ mulai muncul permintaan uang,” ungkap Djumadi.

Oknum polisi tersebut meminta uang antara Rp 7 juta hingga Rp 10 juta agar masalah dianggap selesai. “Bahasanya diplintir: ‘biar sama-sama enak’, ‘saya bantu usahakan’, ‘biar gampang’. Tapi anak saya gak bawa uang segitu,” imbuhnya.

Akhirnya korban mengaku hanya memiliki Rp 650 ribu. Namun pelaku belum puas. Mereka diarahkan ke Indomaret Drive Thru dekat Excelso A. Yani untuk tarik tunai. Di sana, Vanessya diminta menguras isi ATM Rayhan dan menyerahkan uang itu ke si polisi.

Tak berhenti sampai di situ, ATM milik mereka juga diminta. Pelaku bahkan menetapkan ‘janji’ untuk setor uang sisanya besok pukul 17.00 WIB.

“Anak saya dilarang pegang HP, gak boleh kabari orang tua. Waktu bilang mau nelpon malah dibentak. Bahkan sempat disuruh pinjam uang lewat pinjol atau paylater,” terang Djumadi, geram.

Untungnya, Vanessya masih bisa berpikir jernih. Dari kursi belakang, ia diam-diam memotret wajah pelaku beserta seragamnya. Setelah oknum tersebut turun dari mobil sekitar tengah malam, ia langsung mengirimkan bukti foto dan video ke orang tuanya.

Dengan bukti itu, keluarga melapor ke Divisi Propam. Djumadi juga melakukan penelusuran mandiri lewat jaringan internalnya di kepolisian. Tak butuh waktu 24 jam, identitas pelaku terungkap: Bripka H, anggota aktif yang berdinas di wilayah Surabaya.

“Kami minta proses hukum ditegakkan. Ini bukan hanya persoalan pribadi, tapi sudah merusak nama baik institusi,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, laporan resmi telah diterima oleh institusi terkait. Keluarga berharap Polri tidak menutup mata dan segera memberikan tindakan tegas terhadap pelaku

Editor : Mohammad Sugianto
#oknum polisi #suraba baya #Polrestabes Surababaya #polres surabaya #polda jatim