News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

 26 Tahun Menjaga Akal Sehat

Mohammad Sugianto • Senin, 28 Juli 2025 | 01:49 WIB

  

Mohammad Sugianto
Mohammad Sugianto

Oleh : Mohammad Sugianto wartawan senior Jawa Pos Radar Madura

26 tahun Jawa Pos Radar Madura. Usia yang tak lagi bisa disebut muda. Tapi juga belum terlalu tua untuk berhenti bertanya. Saya ingat betul, bergabung di Jawa Pos Radar Madura tahun 2011 silam. Ketika itu, usianya baru 12 tahun. Ibarat anak, Sudah kelas 6 SD yang sudah mulai belajar berdebat. Juga sudah tahu dan paham sepenuhnya apa arti menang dan kalah. Mulai kenal idealisme, Juga sangat kuat menolak kompromi.

Saya masih ingat betul meja redaksi di hari pertama saya datang. Kursi busa, komputer jadul, telepon rumah yang kadang nyala, kadang tidak. Tapi yang paling lekat dalam ingatan bukan benda-benda itu.

Melainkan baunya. Bau tinta, keringat, catatan buku kecil lusuh dan amarah deadline yang meletup di menit-menit terakhir. Mengejar deadline. Bau kopi sachet dan rokok murah yang tak pernah benar-benar padam di asbak. Bau semangat yang belum matang, tapi sangat murni.

Waktu itu belum ada yang namanya “konten kreator”. Belum ada TikTok. Belum ada Watshaap. Dunia maya tak hingar seperti sekarang. Yang ada masih blackberry. Belum ada orang yang dapat honor karena menulis caption. Media informasi masih hitungan jari. Bahkan mencari Informasi seperti jarum ditumpukan jerami. Sulit dicari, sulit digali.

Tapi kami tetap menulis. Bukan untuk likes. Bukan demi trending. Tapi karena tak bisa tidak menulis. Wajib ditulis.  

Sekarang? Dunia sudah jungkir balik. Orang lebih percaya caption daripada naskah panjang. Wartawan dikalahkan oleh akun gosip. Tapi Jawa Pos Radar Madura masih di sini. Tetap eksis. Dan saya bersyukur menjadi saksi — dan bagian kecil — dari perjalanan itu.

Saya menyaksikan bagaimana media ini tumbuh. Dari yang hanya dibaca oleh PNS dan kepala desa, menjadi bacaan serius para pengambil keputusan. Dari media lokal yang dianggap remeh, jadi rujukan nasional saat isu Madura mengemuka.

Saya tahu betul rasa sakitnya saat oplah anjlok. Saat koran tak lagi dicari. Saat berita yang kami garap dengan empat narasumber, dikalahkan hoaks yang ditulis dalam tiga baris.

Tapi Radar Madura tetap berjalan. Merangkak kadang, tertatih sering. Tapi tidak mati. Hingga sekarang. Karena JPRM juga sudah mengikuti trend. Multiplatform. Tidak hanya media cetak tapi juga ada media online, medsos, tiktok, IG, FB, Youtobe bahkan TV.

Bagi saya, Media ini bukan cuma kantor. Ia adalah rumah bagi mereka yang keras kepala menjaga akal sehat. Bagi mereka yang masih percaya bahwa berita harus ditulis, bukan dimanipulasi.

Saya tumbuh bersama Jawa Pos Radar Madura. Belajar menulis cepat saat listrik mati. Belajar mendengar saat ego ingin menang sendiri. Belajar turun ke lapangan, bukan hanya membaca WhatsApp grup.

Kini, di usia 26 tahun, Radar Madura sudah cukup matang untuk memilih jalan. Mau jadi media yang ikut tren dan bermain aman? Atau tetap jadi rumah bagi suara-suara yang tak punya saluran? Saya harap pilihan kedua yang diambil.

Karena di tengah gaduhnya dunia digital, yang paling dibutuhkan bukan media yang keras suara. Tapi yang jernih pikiran. Selamat ulang tahun, Jawa Pos Radar Madura.

Teruslah berisik. Tapi dengan kepala dingin. Teruslah menulis. Tapi dengan hati yang jujur. Karena selama masih ada ketidakadilan, media sepertimu tak boleh diam.

Editor : Mohammad Sugianto
#hut #ulang tahun jawa pos #radar #radarmadura.id #radarmadura tv