BANGKALAN – Pagi yang biasanya sunyi di pesisir Desa Banyusangka, Kecamatan Tanjungbumi, Bangkalan, mendadak riuh pada Minggu (27/7).
Alunan saronen berpadu dengan debur ombak, menghadirkan harmoni tradisi dan alam. Perahu-perahu nelayan tampak tak biasa, berhias warna-warni seperti turut bersyukur atas berkah laut.
Hari itu, masyarakat Banyusangka menggelar rokat tase’, tradisi turun-temurun dari nenek moyang sebagai simbol rasa syukur atas limpahan rezeki dari hasil melaut. Acara ini diprakarsai oleh paguyuban nelayan setempat.
Bukan sekadar tradisi, pergelaran rokat tase’ kali ini penuh warna. Ada tari-tarian khas, kirab budaya, hingga ritual larung kepala kambing ke tengah laut sebagai bentuk sedekah. Semua itu dilaksanakan dengan penuh khidmat dan sukacita.
Sorak-sorai penonton menggema saat tarian gellang soko ditampilkan di atas panggung. Menciptakan suasana penuh semangat dan semarak.
Gerakan para penari yang lincah dan harmonis semakin memukau, membuat setiap detik pertunjukan terasa magis.
Kirab budaya dalam acara tersebut menjadi daya tarik tersendiri. Anak-anak sekolah dasar (SD), kelompok PKK, hingga organisasi desa kompak turut berpartisipasi.
Mereka membawa kapal miniatur berisi nasi tumpeng sebagai simbol kejayaan perahu-perahu nelayan Banyusangka yang terus berlayar menantang ombak.
Kepala kambing yang dilarung merupakan hasil sumbangan gotong royong para nelayan. Kepala kambing itu disematkan di atas pancang di tengah laut.
Hal tersebut menunjukkan persembahan pada laut sebagai penjaga kehidupan para nelayan.
Muhammad Faisol, seksi acara, menuturkan bahwa inti dari rokat tase’ itu adalah memanjatkan syukur sekaligus memohon keselamatan. Selain itu, dia berharap hasil tangkapan ikan melimpah.
”Alhamdulillah, antusiasme warga luar biasa. Semoga tahun depan lebih meriah dan berkah,” harapnya.
Faisol menjelaskan, rokat tase’ itu dipungkasi pengajian dengan menghadirkan KH Imam Bukhori Kholil pada Minggu (27/7) malam.
Pengajian itu bertujuan sebagai penyeimbang spiritual atas pesta tradisi yang baru saja digelar.
Wakil Ketua Paguyuban Desa Banyusangka Ruspandi menyebut bahwa rokat tase’ telah diwariskan secara turun-temurun sejak zaman leluhur.
”Biasanya digelar setiap bulan Juli. Ini bentuk selamatan pada laut yang menjadi sumber hidup kami,” ucapnya.
Ruspandi berharap, rokat tase’ menjadi pengingat bagi nelayan agar tidak lupa bersyukur kepada Allah atas hasil laut yang telah diperoleh.
Dia juga berharap adanya perhatian pemerintah, terutama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan untuk mendukung kegiatan yang menyangkut pelestarian budaya.
”Alhamdulillah, acara rokat tase’ ini berjalan lancar. Ke depan semoga pemerintah turut andil dalam pelestarian kegiatan tradisi ini. Misalnya, memberikan dukungan dana kegiatan. Dengan demikian, beban gotong royong para nelayan bisa lebih ringan dan semangat tradisi tetap terjaga. (ina/luq)
Editor : Ina Herdiyana