PAMEKASAN – Sebanyak 29 warga Pamekasan meninggal dunia akibat penyakit tuberkulosis (TBC) sejak awal Januari hingga menjelang akhir Agustus 2025.
Kondisi ini menjadi peringatan bahwa penyakit berbahaya tersebut menjadi ancaman bagi masyarakat.
Plt Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pamekasan Avira Sulistyowati mengatakan, estimasi kasus TBC di daerah mencapai 2.923.
Dari jumlah itu, baru 870 kasus yang berhasil ditemukan. Total 861 pasien telah menjalani pengobatan.
Sementara untuk TBC anak, dari estimasi 564 kasus, baru 45 kasus yang terdeteksi.
”Tim dilibatkan agar penanganan lebih optimal. Kami berharap penularan TBC tidak semakin menjalar dan bisa dikendalikan,” ujar Avira. Menurut dia, penanganan TBC menjadi prioritas nasional dengan evaluasi mingguan oleh Kementerian Dalam Negeri atas instruksi Presiden RI Prabowo Subianto.
Dalam kasus TBC, tantangan paling nyata justru datang dari kesadaran masyarakat.
Dokter Spesialis Paru RSUD dr H Slamet Martodirdjo (Smart) Pamekasan Syaiful Hidayat mengaku bahwa ada banyak warga masih menyepelekan gejala awal dari penyakit tersebut. Salah satunya adalah batuk berkepanjangan.
”Batuk yang tak kunjung sembuh sering dianggap biasa. Padahal, itu indikasi TBC. Penyakit ini bukan hanya melemahkan penderita, tetapi juga sangat mudah menular kepada orang-orang terdekat. Inilah yang membuat edukasi kesehatan sangat penting. Masyarakat perlu sadar itu,” sambungnya.
Menurut Syaiful, fakta bahwa hampir setiap hari ada pasien baru dengan dugaan TBC di Pamekasan menunjukkan bahwa penyakit menular tersebut masih menjadi ancaman senyap.
Tak jarang ditemui penderita yang justru datang terlambat setelah kondisi tubuhnya makin melemah.
Baca Juga: Verval Belum Kelar, Jadwal KBM Diundur, Kuota Rombel Sekolah Rakyat Bangkalan Sisa 10 Orang
Di sisi lain, Dinkes Pamekasan bersama tenaga kesehatan terus berupaya mendekatkan layanan.
Pemeriksaan rutin, penyuluhan, hingga pendampingan pasien digencarkan agar penanganan tidak terhambat. Tujuannya, agar TBC tidak lagi menjadi penyakit yang luput dari perhatian publik.
Tragedi 29 nyawa yang hilang dalam delapan bulan terakhir di Pamekasan seharusnya cukup menjadi alarm.
Keberadaan TBC tidak bisa dianggap sebagai penyakit ringan, melainkan ancaman serius.
Sebab, setiap batuk yang dianggap sepele bisa saja menyimpan risiko kehilangan yang lebih besar. (afg/han)
Editor : Ina Herdiyana