News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

UTM Bangkalan Tegaskan Komitmen Wujudkan Kampus Anti Kekerasan, Kemendiktisaintek Beri Apresiasi

Mohammad Sugianto • Kamis, 9 Oktober 2025 | 18:36 WIB
UTM teken MoU sebagai bentuk komitmen ciptakan lingkungan kampus tanpa kekerasan di Lantai 10 Gedung Graha Utama UTM, Bangkalan, kemarin.
UTM teken MoU sebagai bentuk komitmen ciptakan lingkungan kampus tanpa kekerasan di Lantai 10 Gedung Graha Utama UTM, Bangkalan, kemarin.

BANGKALAN, Radarbangkalan.id – Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menegaskan komitmennya dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Salah satu wujudnya dengan menggelar Workshop Sahabat Trunojoyo bertema “Bersama Jaga Diri, Lindungi, dan Ciptakan Budaya Anti Kekerasan”, Selasa (8/10).

Acara yang berlangsung di Lantai 10 Graha Utama UTM itu dihadiri langsung Inspektur Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Dr. Chatarina Muliana Girsang, S.H., S.E., M.H. Hadir pula Ana Abdillah, Ketua Women’s Crisis Center (WCC) Jombang, serta Kepala Dinas KBPPPA Bangkalan Sudiyo sebagai pemateri.

Rektor UTM Prof. Safi’ menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem anti kekerasan di lingkungan kampus. Ia menilai, sinergi antara pihak kampus, pemerintah, dan masyarakat sangat penting untuk membangun budaya yang sehat dan bebas dari kekerasan.

Komitmen itu diperkuat dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara UTM dan pemerintah daerah melalui Dinas KBPPPA serta Dinas Pendidikan Bangkalan. Menurut Prof. Safi’, kerja sama ini bertujuan menanamkan budaya anti kekerasan sejak usia dini.

“Kalau sudah terbiasa dengan budaya anti kekerasan sejak dini, insyaallah akan terbawa hingga ke jenjang pendidikan tinggi,” ujarnya.

Sementara itu, Dr. Chatarina Girsang memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah UTM yang menggandeng pemerintah daerah dan pelajar sekolah dalam program tersebut. Menurutnya, kolaborasi itu menjadi contoh nyata dalam membangun sinergi untuk mencegah kekerasan di dunia pendidikan.

Ia menegaskan, kampus harus menjadi tempat paling kondusif bagi pengembangan ilmu dan karakter, bukan sumber trauma atau ketakutan. Karena itu, seluruh civitas akademika perlu menciptakan lingkungan yang bebas dari diskriminasi, perundungan, maupun kekerasan fisik dan psikis.

“Kampus adalah lembaga pendidikan terakhir yang berperan besar dalam melahirkan sumber daya manusia unggul dan berkarakter,” pungkasnya.(lil/bil)

 

Editor : Mohammad Sugianto
#UTM #kerjasama #mou #bangkalan #Mahasiswa UTM