Radarbangkalan.id - Biji salak, kolak, es buah, hingga gorengan adalah beberapa makanan yang menjadi ciri khas berbuka puasa di Indonesia. Namun, semua itu sangat dirindukan oleh Habib Rizky Zakaria, Warga Negara Indonesia (WNI) yang kini tinggal di Marseille, Prancis.
Makanan dan suasana puasa di Tanah Air adalah hal yang sangat dia rindukan saat bulan Ramadan tiba.
"Tentu saja, suasana bersama keluarga dan saudara, serta nuansa berpuasa di sini sangat berbeda dari di Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim.
Saya sangat merindukan makanan Indonesia," ungkap Rizky saat dihubungi Media, Kamis (21/3/2024).
Meskipun begitu, beberapa toko yang menjual makanan khas Ramadan sedikit mengurangi kerinduannya.
"Di sini, beberapa supermarket seperti Super U, Utile, Carrefour, dan Casino, serta beberapa toko Arab menjual kurma dan makanan khas Ramadan dari Timur Tengah," lanjut Rizky.
"Takjil yang paling diminati adalah Turkish Delight dan Baklava," tambahnya.
Marseille, sebagai kota terbesar kedua di Prancis setelah Paris, tempat tinggal Rizky, memiliki populasi Muslim sekitar 29 persen atau sekitar 250.000 orang dari total populasi 835.000.
Oleh karena itu, bagi Rizky, tidak sulit untuk menemukan makanan halal, baik untuk berbuka puasa maupun sehari-hari.
"Menemukan makanan halal sangat mudah di sini, terutama di restoran Turki, Maroko, dan Arab," ujarnya.
Selain itu, Rizky juga mengungkapkan bahwa ada banyak WNI lainnya yang tinggal di Marseille.
"Ada sekitar 1.050 WNI di kota Marseille," katanya.
Masyarakat Muslim di Prancis, sebut Rizky, terdiri dari sekitar 10 persen atau sekitar 6,7 juta orang, yang berasal dari keturunan Maroko, Turki, Aljazair, dan Indonesia.
Meskipun tinggal di zona waktu yang lebih lambat enam jam dari Indonesia, Rizky tetap menjalani ibadah puasa dengan semangat di sana.
Masyarakat Muslim di Prancis umumnya berpuasa selama 13-14 jam, dengan imsak pada pukul 05.31 dan maghrib pukul 18.51 waktu setempat.
Rizky juga melaksanakan ibadah Tarawih sekitar pukul 20.10 waktu setempat. Untungnya, kantornya memberikan kelonggaran bagi karyawan yang berpuasa.
"Karena saya Muslim, saya diberikan kelonggaran masuk kerja pukul 10.00 dan pulang pukul 16.00 (waktu setempat)," ungkapnya.
Rizky juga menceritakan bagaimana dia menjalani ibadah tarawih selama Ramadan.
"Untuk shalat Tarawih di Paris, saya pergi ke Masjid Grand Moquee, dan di Marseille, saya pergi ke El Isah di Distrik 15," kata Rizky.
"Tarawih di sini sama dengan di Indonesia, dengan rata-rata 20 rakaat."