News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Eksotisme dan Legenda Pantai Penyusuk di Pulau Bangka

Ubaidillah • Sabtu, 3 Agustus 2024 | 02:05 WIB

Ilustrasi Pantai Penyusuk. (Dokumentasi pribadi)
Ilustrasi Pantai Penyusuk. (Dokumentasi pribadi)

Radarbangkalan.id - Pantai Penyusuk terletak di Pulau Bangka bagian utara. Pantai ini sangat asri karena dikelilingi oleh tumbuhan hijau.

Hamparan batu granit beraneka ukuran membuat pantai ini terlihat makin cantik dan eksotik. Pantai ini terletak di Kelurahan Remodong Indah, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka Utara.

Pantai ini mempunyai hamparan pasir putih yang indah dengan limpahan batu granit serta pepohonan hijau yang membuat hawa sekitarnya menjadi lebih sejuk.

Pantai dengan Bebatuan Granit yang Berlimpah

Ini adalah tiket masuk Pantai Penyusuk, cukup membayar Rp3.000 per pengunjung. Harga tiketnya cukup terjangkau untuk menyaksikan pemandangan yang sangat indah.

Pantai Penyusuk berjarak sekitar 104 km dari Kota Pangkal Pinang dan dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi dalam waktu sekitar 2 jam.

Pantai ini terlihat sepi dan jauh dari keramaian. Mungkin karena saya datang ke sana bukan saat akhir pekan,

tapi sebenarnya sudah memasuki masa liburan sekolah. Mungkin karena masa pandemi, jadi banyak lokasi wisata yang sepi. Kedai-kedai penjual makanan juga terlihat sepi.

Kondisi pantai yang sepi membuatnya terasa seperti pantai pribadi. Pantai Penyusuk terlihat bersih dan asri.

Di lokasi ini tidak disarankan berenang karena ombak yang lumayan tinggi dan air laut yang bercampur dengan pasir halus.

Di sekitar pantai ini banyak pulau-pulau kecil. Kita bisa menggunakan kapal nelayan untuk mengunjungi pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Tapi, saat itu saya tidak membawa baju ganti, jadi rencana berkunjung ke pulau-pulau sekitarnya terpaksa ditunda dulu.

Seperti halnya pantai di Pulau Bangka lainnya, Pantai Penyusuk pun juga menyajikan pemandangan yang cantik eksotik,

perpaduan dari pasir pantai yang halus putih bersih, dengan banyak batu-batu granit yang saling bertumpukan.

Tumpukan batu-batu berbagai ukuran di antara pasir putih itu membuat pemandangan semakin menakjubkan.

Pelabuhan Tanjung Gudang dan Bangunan Kuno

Di kawasan Pantai Penyusuk ini, terdapat sebuah pelabuhan yaitu Pelabuhan Tanjung Gudang. Pelabuhan ini mempunyai sejarah bagi masyarakat Pulau Bangka,

inilah pelabuhan yang berjasa menghubungkan warga Bangka dengan kota-kota lain di Indonesia termasuk Jakarta. Namun, sekarang sepertinya pelabuhan itu sudah tidak seramai seperti zaman dahulu kala.

Dalam perjalanan menuju lokasi Pantai Penyusuk, kita akan melewati bangunan-bangunan berarsitektur kuno milik PT Timah pada zaman dahulu.

Sebagian bangunan itu sudah banyak yang rusak dan sudah tidak terpakai. Beberapa bangunan sudah direnovasi dan menjadi rumah dinas bagi pegawai atau petinggi PT Timah.

Sepanjang kiri kanan jalan banyak ditumbuhi pohon-pohonan, menandakan Pulau Bangka memiliki tanah yang cukup subur. Salah satu hasil bumi yang terkenal dari pulau ini adalah lada yang berkualitas tinggi.

Saya tidak sempat mampir ke Pelabuhan Tanjung Gudang dan tidak sempat memfoto kondisi rumah-rumah dinas PT Timah yang sudah tidak terpakai lagi.

Kami di mobil asyik mendengarkan cerita-cerita seru dari bapak sopir kami yang sekaligus merangkap menjadi pemandu wisata pada hari itu.

Legenda Pantai Penyusuk

Menurut cerita rakyat, pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang raja dan permaisuri yang sudah lama tidak dikaruniai anak.

Lalu sang permaisuri bermimpi didatangi seekor penyu dan diberikan sebuah kalung komala. Penyu yang datang dalam mimpi permaisuri itu berkata bahwa kelak sang permaisuri akan dikaruniai seorang anak perempuan, dan kalung komala itu bisa diberikan kepada sang bayi yang akan lahir.

Tak lama kemudian permaisuri mengandung dan melahirkan seorang putri yang sangat cantik yang diberi nama Putri Komala.

Raja dan permaisuri sangat menyayangi dan memanjakan putrinya itu. Pada suatu hari, permaisuri bercerita tentang seekor penyu yang datang dalam mimpinya dan memberikan kalung komala.

Sang putri penasaran dan meminta izin kepada orang tuanya untuk mencari penyu tersebut. Berbekal izin sang raja dan pengawalan ketat pasukan kerajaan, sang putri akhirnya bertemu dengan penyu yang ada dalam mimpi sang permaisuri.

Ternyata penyu itu berbau sangat busuk. Sang putri memanggil sang penyu dengan sebutan "penyu busuk".

Sang penyu tidak terima dengan panggilan itu dan berenang menuju ke laut. Sang putri terus mengejarnya hingga akhirnya hilang ditelan gulungan ombak.

Akhirnya pantai ini dinamakan Pantai Penyusuk, singkatan dari Penyu Busuk. Wallahu alam. Entah dengan kebenaran cerita tersebut, yang pasti selalu ada moral di balik sebuah kisah,

yaitu sebaiknya kita tetap menghormati orang lain, apalagi seseorang yang baru dikenal. Misalnya memanggil seseorang dengan panggilan yang lebih sopan, bagaimanapun kondisinya, kita tak sepantasnya memanggil dengan panggilan yang bernada merendahkan.

Editor : Ubaidillah
#wisata alam #wisata pantai #pantai penyusuk