JIKA ingin berkunjung ke Pasar Kebbun, pengunjung hanya bisa bertransaksi menggunakan koin kayu. Sebab, pedagang tidak menerima pembayaran dengan uang tunai, apalagi melalui QRIS.
Siddiq memaparkan, cara mendapatkan koin kayu itu tidak sulit. Begitu masuk ke Pasar Kebbun, terdapat ada stan yang bertulis pamoropan pesse atau tempat penukaran uang. Jadi, pengunjung bisa menukar uang tunai dengan koin kayu untuk berbelanja.
”Satu koin kayu senilai Rp 2.000, rata-rata pengunjung menukarkan uang minimal Rp 50.000 dengan mendapatkan 20 koin kayu,” terangnya.
Apabila koin kayu tidak semua dibelanjakan, pengunjung tidak perlu khawatir, karena bisa ditukar lagi dengan uang rupiah seperti sebelumnya.
”Kami tidak ingin pengunjung merasa rugi, karena telanjur menukar banyak tapi tidak semua digunakan. Kami akan mengembalikan penuh, sesuai nilai koin yang tersisa,” tuturnya.
Ide belanja menggunakan koin kayu muncul karena ingin semakin mendekatkan pengunjung dengan suasana tempo dulu.
Menurut cerita, di masa lampau, orang berbelanja tidak menggunakan uang tunai, melainkan dengan sistem barter barang.
”Tapi kalau sekarang kan sulit kalau membayar barang dengan barang. Makanya, kami memilih menggunakan sistem bayar pakai koin kayu, bukan uang tunai,” pungkasnya. (tif/jup)
Editor : Ina Herdiyana