Oleh : Mohammad Sugianto (Manajer Event dan Pengembangan Bisnis Jawa Pos Radar Madura)
BANGKALAN,Radarbangkalan.id-Ramadan tinggal menghitung hari. Ada getar yang selalu sama setiap tahun. Getar yang tak pernah usang. Getar yang dimulai dari masjid, dapur rumah, sampai trotoar-trotoar kota. Di Bangkalan, getar itu bernama takjil.
Menjelang magrib, jalanan berubah. Orang-orang keluar rumah. Bukan sekadar berjalan. Mereka berburu. Berburu rasa, berburu kenangan, berburu kebersamaan. Es campur, kolak, ketan, lupis, gorengan—semuanya bukan hanya makanan. Itu adalah ritual. Itu adalah cara orang Madura khususnya Bangkalan menunggu azan dengan sabar, dengan senyum, dengan cerita.
Ngabuburit di Madura khususnya di Bangkalan bukan kegiatan kosong. Ia hidup. Ia ekonomi. Ia pergerakan rakyat kecil yang sering luput dari meja rapat dan pidato resmi.
Di titik inilah Ramadan selalu memperlihatkan wajah aslinya: bulan ibadah yang juga bulan perputaran rezeki. Bukan rezeki besar. Bukan proyek raksasa. Tapi rezeki yang mengalir dari tangan ke tangan, dari panci ke pembeli, dari senyum ke senyum.
Momentum inilah yang sejak lama dibaca Jawa Pos Radar Madura.
Lebih dari 15 tahun. Bukan satu atau dua kali Ramadan. Bukan satu kabupaten. Empat kabupaten se-Madura. Konsisten. Diam-diam. Tanpa banyak gaduh. Bazar Takjil Ramadan digelar. Bukan sekadar event. Tapi ruang. Ruang bagi UMKM. Ruang bagi rakyat kecil. Ruang bagi mereka yang tak punya etalase mewah, tapi punya resep warisan dan keberanian.
Jawa Pos Radar Madura paham satu hal: UMKM tidak butuh janji. Mereka butuh tempat. Mereka tidak menunggu slogan. Mereka menunggu pembeli.
Bazar takjil itu sederhana. Tapi dampaknya tidak sederhana. Ada ibu-ibu yang bisa menambah uang belanja. Ada pemuda yang berani mulai usaha. Ada keluarga yang merasakan Ramadan bukan hanya sebagai beban harga naik, tapi juga peluang.
Tahun 2026, bazar takjil itu kembali digelar.
Di tengah ekonomi yang sering tak ramah pada yang kecil. Di saat banyak bicara UMKM hanya berhenti di spanduk dan baliho. Jawa Pos Radar Madura memilih bekerja. Menyediakan ruang. Menghubungkan pedagang dan pembeli. Menggerakkan Ramadan dari bawah, bukan dari podium.
Ini bukan soal jualan takjil. Ini soal keberpihakan.
Ramadan seharusnya memang begitu. Menguatkan yang lemah. Memberi jalan pada yang ingin berusaha. Membuka pintu bagi yang mau bergerak.
Bazar takjil Jawa Pos Radar Madura adalah bukti bahwa media tidak harus selalu bicara. Kadang cukup bertindak. Dan ketika media turun ke jalan, UMKM naik kelas.
Ramadan datang sebentar lagi. Takjil akan diburu. Jalanan akan ramai. Dan di sudut-sudut Madura, tertutama di Bangkalan, ekonomi rakyat akan kembali berdenyut.
Karena Ramadan, ketika dikelola dengan hati dan keberanian, selalu menemukan jalannya sendiri. Wassalam
Editor : Mohammad Sugianto