RadarBangkalan.id – Pancake adalah hidangan sarapan klasik yang dicintai secara universal karena kesederhanaan bahan dan kelezatannya yang memuaskan.
Terdiri atas adonan tepung terigu, telur, susu, dan bahan pengembang pancake dimasak di atas wajan datar yang panas hingga membentuk piringan berwarna cokelat keemasan.
Meskipun konsepnya sangat mendasar, pancake memiliki kemampuan unik untuk menyerap berbagai rasa dari topping yang diberikan, menjadikannya sarapan yang sempurna untuk memulai hari.
Baca Juga: Resep Puding Strawberry Cream Cheese Bisa Jadi Camilan atau Ide Jualan
Ciri khas pancake yang paling dicari adalah teksturnya yang ringan, empuk, dan sedikit membal atau sering disebut dengan istilah fluffy.
Rahasia di balik tekstur ini terletak pada reaksi antara bahan pengembang seperti baking powder dengan cairan dalam adonan yang menciptakan gelembung udara kecil saat terkena panas.
Keseimbangan dalam mengaduk adonan juga penting, adonan yang diaduk terlalu kuat justru akan membuat pancake menjadi bantat sehingga proses pembuatannya menuntut sentuhan yang lembut agar hasilnya tetap maksimal.
Sejarah pancake ternyata jauh lebih tua dari yang dibayangkan banyak orang. Para peneliti menemukan bukti bahwa manusia purba kemungkinan besar sudah membuat semacam roti pipih dari tepung gandum dan pakis yang dipanggang di atas batu panas.
Baca Juga: Manchester United Kian Dekat Liga Champions Usai Tumbangkan Brentford 2-1
Tekstur dan bentuknya tentu sangat berbeda dengan yang kita kenal sekarang, namun konsep dasar memasak adonan cair di atas permukaan panas telah menjadi bagian dari peradaban manusia selama ribuan tahun.
Pada masa Yunani dan Romawi Kuno, hidangan ini mulai memiliki bentuk yang lebih jelas dan dikenal dengan nama tiganites atau alia dulcia.
Masyarakat saat itu membuatnya dari tepung terigu, minyak zaitun, madu, dan susu yang dikentalkan. Pancake versi kuno ini sering disajikan sebagai menu sarapan yang praktis dan bergizi.
Bahkan, dalam naskah penyair Yunani abad ke-5 SM, hidangan ini sudah digambarkan sebagai makanan yang hangat dan manis, menunjukkan bahwa kegemaran manusia terhadap pancake tidak banyak berubah sejak masa lampau.
Baca Juga: MU Tumbangkan Brentford 2-1, Bruno Fernandes Dekati Rekor Assist Premier League
Nama pancake sendiri baru mulai populer di Inggris pada sekitar abad ke-15.
Sebelum istilah ini baku, masyarakat Eropa mengenalnya dengan berbagai nama tergantung pada bahan lokal yang tersedia.
Di Inggris, muncul tradisi unik bernama Pancake Tuesday atau Shrove Tuesday, yaitu hari di mana orang-orang menghabiskan stok bahan makanan seperti telur, susu, dan mentega sebelum memasuki masa puasa pra-Paskah.
Memasuki era modern, pancake mengalami standarisasi resep di Amerika Serikat melalui penambahan bahan pengembang seperti baking powder pada abad ke-19.
Baca Juga: Persis Solo Dibantai Persija 4-0, Pasoepati Soroti Taktik Milomir Seslija
Inovasi inilah yang menciptakan tekstur tebal dan empuk yang kita kenal sebagai American-style pancake.
Kini setiap budaya memiliki versi sejarahnya sendiri, mulai dari crepe tipis di Prancis hingga poffertjes kecil di Belanda.
Pancake telah berkembang menjadi berbagai variasi unik di setiap negara. Di Amerika, pancake cenderung tebal dan dinikmati dengan sirup maple serta mentega, sementara di Prancis dikenal crepe yang sangat tipis dan fleksibel.
Belakangan ini, tren souffle pancake dari Jepang juga sangat diminati karena teksturnya yang sangat lembut seperti awan.
Keberagaman ini membuktikan bahwa pancake bukan sekadar menu sarapan, melainkan fenomena kuliner yang bisa beradaptasi dengan selera dan budaya lokal mana pun. (Athoya Hanin)
Editor : Ina Herdiyana