RadarBangkalan.id – Dioscorea alata atau yang di beberapa daerah disebut uwi adalah salah satu kekayaan pangan lokal Nusantara yang semakin jarang ditemui di meja makan modern.
Secara fisik, uwi memang terlihat kurang menarik karena kulitnya yang kasar, berserat, dan terkadang berbulu.
Namun di balik tampilannya yang sederhana, ia menyimpan potensi nutrisi yang luar biasa.
Baca Juga: 4 Alasan Frozen Food Bisa Tidak Halal dan Tips Memilih yang Aman untuk Muslim
Umbi ini memiliki tekstur yang unik, ada yang pulen dan lembut seperti kentang, namun ada juga yang agak berlendir saat masih mentah dengan warna daging mulai dari putih, kuning gading, hingga ungu cerah yang sangat cantik.
Dahulu, uwi adalah sumber karbohidrat alternatif utama bagi masyarakat pedesaan.
Di masa-masa sulit atau saat musim paceklik, uwi menjadi penyelamat karena kemudahannya untuk tumbuh di pekarangan tanpa perawatan yang rumit.
Cara mengolahnya pun sangat merakyat, cukup dikukus atau dibakar hingga matang, uwi sudah bisa dinikmati dengan cocolan kelapa parut berbumbu garam.
Baca Juga: Jangan Sepelekan Pup Anak! Warna dan Tekstur Feses Bisa Jadi Tanda Kesehatan Pencernaan
Rasanya yang cenderung netral dengan sedikit sentuhan manis alami membuatnya sangat fleksibel, baik diolah menjadi camilan manis seperti kolak dan getuk, maupun diolah menjadi hidangan gurih.
Uwi memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan nasi putih, menjadikannya pilihan karbohidrat yang lebih ramah bagi mereka yang sedang menjaga kadar gula darah atau sedang menjalankan program diet.
Kandungan serat alaminya yang tinggi sangat baik untuk kesehatan pencernaan, memberikan rasa kenyang lebih lama tanpa membuat perut terasa begah.
Sayangnya, pengetahuan tentang cara mengolah uwi agar tidak menimbulkan rasa gatal di tenggorokan kini mulai terlupakan oleh generasi muda.
Baca Juga: Wakil Kepala BGN Ungkap Banyak Dapur MBG Tak Sesuai Standar, Risiko Kontaminasi Mengintai
Namun, kini uwi mulai mendapatkan tempat kembali di kalangan pecinta pangan lokal yang sadar akan pentingnya ketahanan pangan mandiri.
Banyak inovasi kuliner modern yang mulai mengolah uwi menjadi tepung untuk bahan dasar kue, keripik, hingga produk olahan pangan fungsional. (Athoya Hanin)
Editor : Ina Herdiyana