News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Kisah di Balik Lingkaran: Menelusuri Jejak Sejarah Donat

Ina Herdiyana • Selasa, 9 Juni 2026 | 12:21 WIB
Sumber foto: Hanin
Sumber foto: Hanin

RadarBangkalan.id Donat adalah salah satu hidangan kudapan paling ikonik di dunia yang dicintai karena perpaduan teksturnya yang empuk dan cita rasanya yang serbaguna.

Secara mendasar, donat merupakan adonan tepung terigu, ragi, telur, dan mentega yang digoreng hingga berwarna keemasan.

Daya tarik utamanya terletak pada bentuk cincin klasiknya yang berlubang di tengah, yang bukan sekadar estetika, melainkan teknik unik untuk memastikan bagian tengah donat matang merata bersamaan dengan bagian tepinya.

Baca Juga: Jubah, Rapier, dan Kehormatan: Legenda Para Musketeer

Sejarah donat adalah perjalanan panjang yang melibatkan perpaduan tradisi kuliner Eropa dan inovasi Amerika.

Akar sejarahnya sering dilacak dari olykoek atau kue minyak, sebuah penganan tradisional Belanda yang dibawa oleh pemukim Belanda ke Amerika Utara pada abad ke-17. 

Pada saat itu, kue ini berupa bola adonan yang digoreng dalam lemak babi hingga kecokelatan. Namun, kue ini tidak memiliki lubang di tengahnya sehingga sering kali bagian tengahnya tetap mentah atau kurang matang ketika bagian luarnya sudah garing.

Perubahan bentuk donat menjadi berlubang secara legendaris dikaitkan dengan seorang kapten kapal asal Amerika bernama Hanson Gregory pada tahun 1847. Ia merasa terganggu dengan bagian tengah kue yang sering terasa berminyak dan kurang matang. 

Konon, ia menggunakan tutup kaleng merica untuk melubangi bagian tengah adonan sebelum digoreng. Teknik ini terbukti jenius karena meningkatkan luas permukaan adonan yang terpapar minyak panas, sehingga donat matang secara merata dan lebih cepat.

Memasuki abad ke-20, donat bertransformasi dari camilan rumahan menjadi fenomena industri. Pada tahun 1920-an, seorang imigran Rusia bernama Adolph Levitt menciptakan mesin pembuat donat otomatis pertama di New York. 

Inovasi ini memungkinkan produksi massal yang cepat, menjadikan donat sebagai makanan yang sangat terjangkau bagi para pekerja selama masa Great Depression. 

​Dalam perjalanannya, donat telah berkembang menjadi kanvas kreatif bagi para pembuat roti. Mulai dari taburan gula halus yang sederhana, glaze cokelat yang manis, hingga topping kekinian seperti keju parut, kacang, hingga isian krim atau selai buah. 

Di Indonesia, kita mengenal donat kentang yang legendaris, di mana penambahan kentang tumbuk ke dalam adonan memberikan tekstur yang jauh lebih lembut, lembap, dan fluffy dibandingkan donat tepung terigu biasa.

Donat sering menjadi simbol kenyamanan (comfort food) di berbagai belahan dunia. Dari toko roti lokal di sudut jalan hingga waralaba internasional, donat mampu menyatukan orang-orang di setiap suasana, baik itu sebagai teman minum kopi di pagi hari, dan suguhan saat berkumpul bersama teman. (Athoya Hanin)

 

 

 

 

Editor : Ina Herdiyana
#sejarah donat #hidangan kudapan #kuliner Eropa-Amerika #roti bulat