News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Jangan Sepelekan Sarden Kalengan Penyok, Ini Risiko BPA dan Kontaminasi Bakteri

Ubaidillah • Selasa, 26 Mei 2026 | 06:50 WIB
Waspadai juga paparan bisphenol A. Foto: Getty Images/syahrir maulana
Waspadai juga paparan bisphenol A. Foto: Getty Images/syahrir maulana

 

RadarBangkalan.id - Perdebatan mengenai sarden kalengan sebagai ultra processed food (UPF) masih ramai dibahas. Namun di balik polemik tersebut, kondisi kemasan justru menjadi faktor paling penting yang menentukan keamanan makanan di dalamnya.

Kaleng yang menggembung maupun penyok tidak boleh dianggap sekadar cacat tampilan. Kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya kerusakan pada sistem kedap udara kemasan yang berisiko memicu kontaminasi bakteri hingga migrasi zat kimia berbahaya ke makanan.

Baca Juga: Viral Istilah UPF, Benarkah Semua Ultra-Processed Food Tidak Sehat?

Bahaya Kaleng Menggembung

Makanan kaleng diproduksi dalam kondisi steril dan kedap udara. Setelah diisi makanan, kaleng dipanaskan pada suhu tinggi untuk membunuh mikroorganisme lalu disegel rapat agar bakteri tidak masuk kembali.

Baca Juga: Sariawan hingga Bibir Bengkak, Benarkah Kumur Air Garam Bisa Membantu?

Masalah muncul ketika segel rusak atau ada bakteri yang berkembang di dalam kemasan. Aktivitas bakteri dapat menghasilkan gas yang membuat kaleng perlahan menggembung.

Salah satu bakteri yang paling berbahaya adalah Botulisme yang dipicu oleh bakteri Clostridium botulinum. Bakteri ini mampu menghasilkan racun yang menyerang sistem saraf.

Baca Juga: Kulit Sering Gatal dan Badan Linu, Apakah Tanda Imun Tubuh Bermasalah?

Penelitian dalam Journal of Veterinary Research tahun 2022 menemukan adanya pertumbuhan bakteri Clostridium pada sampel ikan kaleng yang menggembung akibat pembentukan gas di dalam kemasan.

Yang perlu diwaspadai, makanan terkontaminasi tidak selalu menunjukkan tanda jelas seperti bau busuk atau perubahan warna. Karena itu, kaleng yang sudah menggembung sebaiknya langsung dihindari meski belum melewati tanggal kedaluwarsa.

Baca Juga: Cara Mengatasi Sakit Perut pada Bayi, Kenali Penyebabnya Sejak Dini

Risiko Kaleng Penyok

Kaleng penyok juga tidak boleh disepelekan. Benturan keras dapat memicu retakan kecil pada sambungan atau lapisan pelindung bagian dalam kemasan.

Area yang paling rawan adalah bagian tutup, sudut, dan sambungan lipatan kaleng. Jika kerusakan terjadi di area tersebut, udara dan bakteri dapat masuk perlahan tanpa terlihat dari luar.

Baca Juga: Jangan Sepelekan Pup Anak! Warna dan Tekstur Feses Bisa Jadi Tanda Kesehatan Pencernaan

Selain itu, benturan juga bisa merusak lapisan epoxy resin di bagian dalam kaleng yang berfungsi melindungi makanan dari kontak langsung dengan logam. Lapisan ini kerap dikaitkan dengan penggunaan Bisfenol A atau BPA.

BPA digunakan agar kemasan lebih tahan panas, tidak mudah berkarat, dan mampu menjaga kualitas makanan selama penyimpanan. Namun, senyawa tersebut dapat bermigrasi ke makanan, terutama pada kemasan yang penyok atau terpapar suhu panas dalam waktu lama.

Sebuah penelitian dalam jurnal Food Additives & Contaminants menemukan bahwa kerusakan fisik pada kaleng dapat meningkatkan migrasi BPA ke makanan.

Baca Juga: Benarkah Emosi Dipendam Bisa Memicu Kanker? Dokter Ungkap Faktanya

Paparan BPA dalam jumlah kecil memang tidak langsung menimbulkan gejala. Namun, akumulasi jangka panjang akibat konsumsi berulang dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan.

Dalam sejumlah penelitian, BPA dikenal sebagai endocrine disruptor yang dapat mengganggu sistem hormon tubuh. Paparan jangka panjang dikaitkan dengan risiko gangguan metabolik, resistensi insulin, obesitas, gangguan reproduksi, penurunan kualitas sperma, hingga gangguan perkembangan anak.

Baca Juga: 5 Posisi Seks Minim Suara saat Menginap di Rumah Mertua

Dokter spesialis gizi klinik, dr Iflan Nauval, mengingatkan bahwa konsumsi makanan tercemar BPA secara terus-menerus dapat berdampak buruk bagi kesehatan.

Menurutnya, paparan BPA berkepanjangan dapat memicu gangguan metabolik, gangguan hormonal, bahkan meningkatkan risiko kanker.

Cara Aman Memilih Sarden Kalengan

Sarden kalengan tetap dapat dikonsumsi selama kondisi kemasan masih baik dan penyimpanannya sesuai standar keamanan pangan.

Baca Juga: Panu di Wajah dan Leher Susah Hilang? Ini Cara Mengatasinya dengan Benar

Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum membeli antara lain:

• Hindari kaleng yang menggembung
• Hindari kaleng bocor atau berkarat
• Hindari kaleng penyok
• Periksa tanggal kedaluwarsa produk

Jika setelah dibuka isi makanan mengeluarkan bau menyengat, berbusa, berubah warna, atau teksturnya tampak tidak normal, produk sebaiknya langsung dibuang.

Baca Juga: Dokter Sebut Wajah Sembap Bisa Jadi Gejala Gagal Ginjal Stadium Akhir

Di tengah ramainya perdebatan soal sarden kalengan dan UPF, kondisi kemasan tetap menjadi faktor utama yang menentukan keamanan makanan untuk dikonsumsi.

Editor : Ubaidillah
#sarden kalengan #upf #ultra processed food #BPA #bisphenol a