RadarBangkalan.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus memperluas layanan pencegahan penyakit melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Salah satu langkah terbaru yang dilakukan adalah memasukkan skrining kanker kolorektal atau kanker usus besar ke dalam program tersebut.
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, mengatakan kebijakan ini ditujukan untuk meningkatkan deteksi dini kanker usus, terutama pada masyarakat berusia 45 tahun ke atas yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit tersebut.
Baca Juga: Tak Bisa BAB Meski Makan 7 Pepaya, Wanita Ini Alami Sembelit Parah Selama 23 Tahun
Kanker Usus Jadi Ancaman Serius di Indonesia
Kanker kolorektal saat ini menjadi salah satu jenis kanker dengan angka kasus yang terus meningkat di berbagai negara.
Secara global, kanker usus menempati posisi ketiga sebagai kanker paling banyak ditemukan dengan sekitar 1,9 juta kasus baru setiap tahun.
Sementara di Indonesia, kanker kolorektal berada di peringkat keempat untuk jumlah kasus terbanyak dan menjadi penyebab kematian akibat kanker tertinggi kelima. Data menunjukkan lebih dari 19 ribu kematian terjadi setiap tahun akibat penyakit ini.
Baca Juga: Viral Influencer Minum 11 Suplemen Sekaligus, Amankah bagi Kesehatan? Ini Kata Ahli
Menurut Wamenkes Dante, salah satu tantangan terbesar dalam penanganan kanker usus adalah rendahnya deteksi dini.
Ia menyebut lebih dari 70 persen pasien kanker kolorektal baru datang ke fasilitas kesehatan ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut, sehingga peluang keberhasilan pengobatan menjadi lebih kecil.
Tahapan Skrining Kanker Kolorektal dalam Program CKG
Untuk meningkatkan deteksi dini, Kemenkes menerapkan sistem pemeriksaan berlapis dalam Program Cek Kesehatan Gratis.
Tahapan skrining yang akan dilakukan meliputi:
Baca Juga: BGN Ungkap Penyebab Ribuan Dapur MBG Disuspend, dari Dugaan Mark Up hingga Kasus Keracunan
- Pengisian kuesioner skrining kanker kolorektal sebagai tahap awal.
- Pemeriksaan colok dubur digital untuk mendeteksi kelainan pada area rektum.
- Tes darah samar tinja atau Fecal Occult Blood Test (FOBT) bagi peserta yang dinilai memiliki risiko tinggi.
Melalui metode tersebut, potensi kanker usus diharapkan dapat ditemukan lebih cepat sebelum berkembang menjadi stadium lanjut.
BPJS Kesehatan Menanggung Pengobatan Kanker dengan Sejumlah Ketentuan
Terkait pembiayaan pengobatan, Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan bahwa layanan BPJS Kesehatan pada dasarnya menanggung penanganan kanker.
Namun, terdapat beberapa terapi modern berbiaya tinggi yang belum seluruhnya masuk dalam cakupan pembiayaan BPJS.
Baca Juga: Kenkulus Viral Disebut Balita Genius, Ini Menu Makanan Favorit yang Dikonsumsi Sejak Kecil
Salah satunya adalah terapi target atau targeted therapy yang umumnya digunakan pada pasien kanker stadium lanjut dengan kondisi penyebaran sel kanker ke berbagai organ tubuh.
Karena biaya pengobatan kanker stadium lanjut sangat tinggi, pemerintah terus mendorong masyarakat untuk melakukan deteksi dini dan menerapkan gaya hidup sehat.
Pentingnya Pencegahan dan Deteksi Dini
Kemenkes mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memperbanyak sayur dan buah, rutin berolahraga, serta memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis yang telah tersedia.
Deteksi dini dinilai menjadi langkah paling efektif untuk meningkatkan peluang kesembuhan sekaligus menekan angka kematian akibat kanker usus di Indonesia.
Baca Juga: Viral Wanita Kena Kanker Kulit Diduga Akibat Manicure UV, Dokter Bagikan Tips Aman
Editor : Ubaidillah