RadarBangkalan.id - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti tingginya harga sejumlah obat di Indonesia yang masih berada di atas harga pasar internasional.
Dalam pembahasan penguatan layanan penyakit hati dan hepatitis, Selasa (2/6/2026), Budi menyebut beberapa obat penting memiliki selisih harga yang cukup besar dibandingkan harga acuan global.
Baca Juga: Susah BAB Selama 23 Tahun, Hasil Rontgen Wanita Taiwan Ini Bikin Merinding
Obat tenofovir disoproxil fumarate (TDF) misalnya, dijual sekitar USD 4,8 di Indonesia, sementara harga referensi Global Fund hanya sekitar USD 2,4. Sementara obat entecavir (ETV) dibanderol USD 18 di Indonesia dan sekitar USD 7,5 di pasar global.
Perbedaan yang lebih signifikan terjadi pada obat hepatitis C. Daclatasvir dijual sekitar USD 152 di Indonesia, sedangkan harga internasional berada di kisaran USD 24. Kombinasi sofosbuvir dan velpatasvir juga tercatat mencapai USD 1.100 di Indonesia, jauh di atas harga global yang sekitar USD 174.
Baca Juga: Rahasia Awet Muda Jerry Yan di Usia 49 Tahun, Rajin Olahraga hingga Jarang Main HP
Menkes menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah karena berdampak langsung pada akses pengobatan pasien, khususnya mereka yang membutuhkan terapi jangka panjang.
Selain menyoroti harga obat, Kementerian Kesehatan juga menargetkan peningkatan layanan transplantasi hati di Indonesia. Pemerintah berharap layanan tersebut dapat tersedia di seluruh 34 provinsi sebagai bagian dari penguatan sistem kesehatan nasional.
Baca Juga: Sering Begadang karena Main HP? Dokter Ingatkan Risiko Stroke Meningkat
Budi menegaskan bahwa upaya menurunkan harga obat dan memperluas layanan kesehatan menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas penanganan penyakit hati dan hepatitis di Indonesia.
Editor : Ubaidillah