RadarBangkalan.id - Seorang bocah berusia 7 tahun di India didiagnosis mengalami gagal ginjal kronis stadium 5 setelah sebelumnya menunjukkan sejumlah gejala yang kerap dianggap sebagai keluhan kesehatan biasa.
Gejala tersebut mulai muncul pada pertengahan 2025. Anak itu mengalami penurunan nafsu makan, mudah lelah, aktivitas fisik yang menurun drastis, produksi urine berkurang, hingga pembengkakan pada tubuh.
Melihat kondisi yang terus memburuk, keluarga akhirnya membawa pasien ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Baca Juga: Viral Tren Strava Fridge, Profesor IPB Ungkap Bahaya Sering Buka-Tutup Kulkas Minimarket
Hasil evaluasi medis menunjukkan bahwa anak tersebut mengalami Congenital Anomalies of the Kidney and Urinary Tract (CAKUT), yaitu kelainan bawaan yang memengaruhi perkembangan ginjal dan saluran kemih.
Kelainan Bawaan Jadi Pemicu Gagal Ginjal
CAKUT merupakan kelompok kelainan bawaan yang menyebabkan struktur ginjal dan sistem kemih tidak berkembang secara normal sejak lahir.
Pada kasus ini, kedua ginjal pasien mengalami hipodisplasia, yaitu kondisi ketika ginjal berukuran lebih kecil dari normal dan tidak berkembang sempurna.
Baca Juga: Minuman Manis Bisa Picu Gagal Ginjal, Kemenkes Soroti Konsumsi Tinggi pada Anak
Akibatnya, kemampuan ginjal dalam menyaring limbah dan cairan dari tubuh menurun secara signifikan hingga menyebabkan gagal ginjal kronis stadium lanjut.
Sempat Menjalani Cuci Darah
Karena kondisi ginjal yang sudah sangat menurun, pasien sempat menjalani beberapa sesi dialisis atau cuci darah.
Baca Juga: Waspadai 5 Gejala Kanker Darah di Kulit yang Sering Dianggap Sepele
Namun mengingat usia pasien yang masih sangat muda, tim dokter berupaya mencari alternatif penanganan lain yang dapat membantu mempertahankan fungsi ginjal tanpa ketergantungan jangka panjang pada dialisis.
Dokter kemudian memutuskan menerapkan terapi konservatif yang berfokus pada pengelolaan kondisi pasien secara menyeluruh.
Terapi Konservatif Beri Hasil Positif
Pasien menjalani perawatan intensif selama sekitar 7 hingga 10 hari. Penanganan dilakukan melalui kombinasi pemberian obat-obatan, pemantauan ketat kondisi tubuh, pengaturan pola makan, serta perubahan gaya hidup.
Pendekatan tersebut bertujuan untuk menstabilkan kondisi pasien sekaligus memperlambat kerusakan fungsi ginjal yang masih tersisa.
Baca Juga: Susah BAB Selama 23 Tahun, Hasil Rontgen Wanita Taiwan Ini Bikin Merinding
Hasilnya, kondisi anak tersebut menunjukkan perbaikan yang signifikan. Respons terhadap terapi berjalan baik dan kesehatannya berangsur stabil.
Kini Bisa Beraktivitas Normal
Meski berhasil keluar dari fase kritis, pasien tetap menjalani kontrol rutin selama satu tahun terakhir untuk memantau fungsi ginjalnya.
Baca Juga: Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Jadi Tersangka Korupsi Program MBG, Kejagung Ungkap Modusnya
Berkat pengawasan medis yang berkelanjutan, kondisi kesehatannya kini stabil dan mampu menjalani aktivitas sehari-hari tanpa harus menjalani cuci darah secara rutin.
Konsultan nefrologi anak Rumah Sakit Kailash, Neha V Pandey, menjelaskan bahwa kelainan ginjal bawaan merupakan salah satu penyebab utama penyakit ginjal kronis pada anak-anak.
Menurutnya, gejala awal sering kali tidak spesifik sehingga mudah terlewat hingga kondisi menjadi lebih berat.
Baca Juga: Sering Begadang karena Main HP? Dokter Ingatkan Risiko Stroke Meningkat
"Kelainan ginjal bawaan merupakan penyebab utama penyakit ginjal kronis pada anak-anak. Gejala awal sering kali tidak jelas dan baru terdeteksi ketika penyakit sudah berkembang," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat membantu memperlambat progresivitas penyakit serta meningkatkan kualitas hidup pasien.
Editor : Ubaidillah