RadarBangkalan.id - Media sosial tengah diramaikan oleh kontroversi seorang influencer yang dianggap melakukan parodi atau "cosplay" sebagai penyandang disabilitas dalam sejumlah kontennya. Beberapa video yang diunggah bahkan diketahui menjadi bagian dari promosi produk kecantikan.
Konten tersebut memicu reaksi keras dari warganet. Banyak pihak menilai tindakan tersebut tidak etis karena menjadikan kondisi disabilitas sebagai bahan hiburan dan bagian dari strategi personal branding.
Baca Juga: Pria Ini Nekat Buka 'Pabrik Sperma' Ilegal di Media Sosial, Klaim Sudah Punya 180 Anak
Sejumlah komentar di media sosial menyebut konten tersebut berpotensi merendahkan kelompok penyandang disabilitas dan memperkuat stereotip negatif yang selama ini masih dihadapi.
Dokter Soroti Dampak Psikologis
Sorotan juga datang dari Adam Prabata yang menilai bahwa menjadikan disabilitas sebagai bahan candaan bukan sekadar persoalan sensitivitas sosial.
Baca Juga: Bocah 7 Tahun Kena Gagal Ginjal Stadium 5, Awalnya Dikira Penyakit Biasa
Menurutnya, konten semacam itu dapat memperkuat stigma yang telah lama melekat pada penyandang disabilitas dan berpotensi berdampak pada kesehatan mental mereka.
Ia menjelaskan bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan konsep ableism, yaitu bentuk diskriminasi atau prasangka terhadap penyandang disabilitas yang menganggap kondisi fisik atau mental tertentu lebih normal atau lebih bernilai dibanding kondisi disabilitas.
Baca Juga: Viral Tren Strava Fridge, Profesor IPB Ungkap Bahaya Sering Buka-Tutup Kulkas Minimarket
Apa Itu Ableism?
Ableism merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan sikap, kebijakan, atau perilaku yang mendiskriminasi penyandang disabilitas.
Dalam berbagai kajian kesehatan dan sosial, ableism sering kali muncul dalam bentuk stereotip, candaan, perlakuan yang meremehkan kemampuan penyandang disabilitas, hingga penggambaran negatif di media.
Masalahnya, banyak bentuk ableism yang dianggap lumrah sehingga tidak disadari oleh masyarakat. Padahal, dampaknya dapat memengaruhi kualitas hidup dan kesejahteraan psikologis penyandang disabilitas.
Baca Juga: Minuman Manis Bisa Picu Gagal Ginjal, Kemenkes Soroti Konsumsi Tinggi pada Anak
Berisiko Memicu Kecemasan dan Depresi
Menurut para ahli, representasi negatif yang terus berulang dapat memengaruhi kondisi psikologis penyandang disabilitas.
Dampak yang mungkin muncul antara lain:
- Penurunan rasa percaya diri.
- Kecemasan sosial.
- Perasaan terasing atau tidak diterima.
- Gejala depresi.
- Ketakutan untuk mengekspresikan diri karena khawatir menjadi sasaran ejekan.
Selain itu, fenomena ini juga dapat memicu cyberbullying yang semakin memperburuk tekanan psikologis yang dialami korban.
Baca Juga: Waspadai 5 Gejala Kanker Darah di Kulit yang Sering Dianggap Sepele
Penelitian Soroti Dampak Humor tentang Disabilitas
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Media Psychology pada 2024 menemukan bahwa humor yang menjadikan disabilitas sebagai objek candaan dapat memperkuat stereotip negatif di masyarakat.
Baca Juga: Susah BAB Selama 23 Tahun, Hasil Rontgen Wanita Taiwan Ini Bikin Merinding
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa konten semacam itu berpotensi mengurangi empati publik terhadap kelompok disabilitas serta meningkatkan tekanan emosional bagi individu yang merasa menjadi sasaran representasi tersebut.
Karena itu, para ahli menilai penting untuk membangun lingkungan digital yang lebih inklusif dan menghormati keberagaman kondisi fisik maupun mental.
Baca Juga: Tak Bisa BAB Meski Makan 7 Pepaya, Wanita Ini Alami Sembelit Parah Selama 23 Tahun
Pemilik Akun Sudah Minta Maaf
Setelah menuai kritik luas, pemilik akun yang menjadi sorotan diketahui telah menyampaikan permintaan maaf kepada publik.
Ia mengaku menyesali konten yang dibuat dan berjanji tidak akan kembali membuat video serupa di masa mendatang.
Meski demikian, kasus ini menjadi pengingat bahwa disabilitas bukanlah bahan hiburan. Edukasi mengenai ableism dinilai penting agar masyarakat semakin memahami dampak sosial dan psikologis yang dapat muncul dari candaan atau parodi yang menyasar kelompok rentan.
Baca Juga: Rahasia Awet Muda Jerry Yan di Usia 49 Tahun, Rajin Olahraga hingga Jarang Main HP
Editor : Ubaidillah