News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Perjalanan Rasa dari Pucuk Pohon Camellia Sinensis

Ina Herdiyana • Selasa, 9 Juni 2026 | 09:28 WIB
Sumber foto: Hello Sehat
Sumber foto: Hello Sehat

RadarBangkalan.id – Teh merupakan minuman paling banyak dikonsumsi di dunia setelah air putih. Minuman ini awalnya ditemukan secara tidak sengaja, oleh Kaisar Shen Nong.

Kaisar memiliki kebiasaan merebus air minumnya. Suatu waktu saat kaisar sedang beristirahat di bawah pohon dan menunggu airnya mendidih, embusan angin menjatuhkan beberapa lembar daun dari pohon di atasnya ke dalam kuali air panas tersebut.

Kaisar menyadari bahwa warna air tersebut berubah menjadi kecokelatan dan mengeluarkan aroma yang sangat harum.

Karena rasa ingin tahunya yang tinggi, ia mencicipi air tersebut dan merasakan tubuhnya menjadi lebih segar serta pikirannya menjadi lebih jernih.

Baca Juga: Awal Mula Milkshake, Dari Minuman Beralkohol ke Camilan Manis.

Pohon tersebut ternyata adalah Camellia sinensis liar, dan itulah momen yang dianggap sebagai kelahiran minuman teh pertama di dunia.

Meskipun berasal dari spesies tanaman yang sama, perbedaan profil rasa, warna, dan aroma pada teh ditentukan sepenuhnya oleh tingkat oksidasi serta teknik pengolahan pasca-panen yang diterapkan oleh para pengrajin teh.

Daya tarik utama teh terletak pada keragaman jenisnya yang sangat luas, yang secara umum dikelompokkan menjadi empat kategori utama, diantaranya ada:

* Teh Hijau, daun teh segera dipanaskan setelah dipetik untuk menghentikan proses oksidasi, sehingga mempertahankan warna hijau alami dan kandungan antioksidan polifenol yang tinggi. Rasanya cenderung segar, sedikit sepat, dan beraroma dedaunan.

* ​Teh Hitam, dimana daun teh dibiarkan mengalami oksidasi penuh, yang mengubah warnanya menjadi gelap dan menciptakan profil rasa yang kuat, berani, serta memiliki sentuhan rasa karamel atau kayu.

* ​Teh Oolong, jenis ini berada di antara teh hijau dan hitam, di mana proses oksidasinya hanya dilakukan sebagian. Hasilnya adalah rasa yang sangat kompleks dan aromatik, sering kali memiliki catatan rasa bunga atau buah-buahan.

* ​Teh Putih, merupakan jenis yang paling sedikit diproses, hanya terdiri dari pucuk daun muda yang dikeringkan secara alami, menghasilkan rasa yang sangat lembut, ringan, dan manis alami.

Baca Juga: Rahasia Kelezatan Gyoza: Teknik Masak Goreng-Uap yang Ikonik

Teh juga mengandung senyawa yang bekerja secara sinergis untuk memberikan efek fokus tanpa rasa gelisah.

Di luar aspek kesehatan, teh memiliki kedalaman budaya yang sangat kuat, mulai dari upacara teh yang sakral di Jepang dan Tiongkok hingga tradisi teh tubruk di Indonesia yang identik dengan kebersamaan.

Kemampuan adaptasi teh yang dapat dinikmati baik dalam keadaan panas yang menenangkan maupun dingin yang menyegarkan menjadikannya minuman yang mampu melintasi berbagai batas budaya dan zaman. (Athoya Hanin)

 

 

Editor : Ina Herdiyana
#Camellia Sinensis #teh #tanaman herbal #Minuman Tradisional