RadarBangkalan.id - Usus merupakan salah satu organ penting dalam sistem pencernaan yang berperan dalam menyerap nutrisi serta menjaga keseimbangan kesehatan tubuh. Ketika fungsi usus terganggu, berbagai masalah kesehatan dapat muncul, termasuk kanker usus besar.
Kanker usus besar atau colorectal cancer merupakan kondisi ketika sel abnormal tumbuh secara tidak terkendali di bagian usus besar. Penyakit ini sebelumnya lebih sering ditemukan pada orang lanjut usia, tetapi dalam beberapa tahun terakhir kasus pada kelompok usia lebih muda juga mengalami peningkatan.
Baca Juga: Kanker Payudara Ternyata Bisa Menyerang Pria, Kisah Tyler Mane Buka Kesadaran Baru
Karena gejalanya sering terlihat seperti gangguan pencernaan biasa, kanker usus besar kerap terlambat terdeteksi. Padahal, diagnosis lebih awal dapat meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan.
Gejala Kanker Usus Besar yang Perlu Diwaspadai
Kanker usus besar dapat menimbulkan berbagai tanda yang terkadang dianggap sepele. Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain:
- Perubahan pola buang air besar, seperti sembelit atau diare yang berlangsung lama
- Muncul darah pada tinja
- Rasa nyeri, kram, atau tidak nyaman di area perut
- Perut sering terasa kembung akibat penumpukan gas
- Merasa belum tuntas setelah buang air besar
- Berat badan turun tanpa penyebab yang jelas
- Mudah lelah atau kehilangan energi
Jika gejala tersebut muncul secara terus-menerus, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Baca Juga: Tak Cuma Rugikan Ekonomi, Korupsi Ternyata Berdampak pada Kesehatan Mental
Penyebab Kanker Usus Besar
Kanker usus besar terjadi akibat perubahan atau mutasi genetik yang membuat sel sehat di usus berubah menjadi sel kanker.
Sel kanker kemudian berkembang membentuk polip, yaitu pertumbuhan jaringan abnormal pada permukaan usus. Sebagian polip dapat berkembang menjadi kanker apabila tidak terdeteksi dan ditangani.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker usus besar meliputi:
Baca Juga: Diwarnai 3 Kartu Merah, Meksiko Awali Piala Dunia 2026 dengan Kemenangan 2-0
- Usia yang semakin bertambah, terutama di atas 50 tahun
- Riwayat keluarga dengan kanker usus besar atau polip usus
- Memiliki banyak polip pada usus besar
- Berat badan berlebih atau obesitas
- Kebiasaan mengonsumsi alkohol
- Pola makan rendah serat
Pola Makan Berperan Penting Menjaga Kesehatan Usus
Dokter spesialis gizi klinik dr Juwita Surapsari, MGizi, SpGK, mengatakan kurangnya konsumsi serat dan vitamin dari makanan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk kanker usus besar.
Baca Juga: Rahasia Kopi Lebih Sehat, Tambahkan Bumbu Dapur Ini untuk Bantu Turunkan Risiko Diabetes
Menurutnya, sayuran dan buah-buahan memiliki kandungan serat serta vitamin yang membantu menjaga fungsi tubuh. Salah satunya vitamin C yang berperan dalam membantu penyerapan zat besi dan memiliki sifat antioksidan.
"Sekarang yang namanya serat makanan kalau tidak terpenuhi, risiko penyakitnya macam-macam. Yang paling kita takutkan apa ya, kanker usus besar," ujar dr Juwita.
Hal serupa disampaikan dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi-onkologi Dr dr Andhika Rachman SpPD-KHOM. Ia menjelaskan makanan tinggi serat seperti buah, sayuran, biji-bijian utuh, dan kacang-kacangan dapat membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan.
Baca Juga: Harga Obat Mulai Naik Imbas Rupiah Melemah, Menkes Budi Buka Suara
Sebaliknya, konsumsi daging merah secara berlebihan serta makanan olahan perlu dibatasi karena dapat meningkatkan risiko kanker usus besar, terutama jika dikombinasikan dengan pola makan rendah serat.
Baca Juga: Klaim Membengkak, BPJS Kesehatan Butuh Suntikan Dana Rp 20 Triliun
Cara Menurunkan Risiko Kanker Usus Besar
Beberapa kebiasaan yang dapat membantu menjaga kesehatan usus antara lain:
- Mengonsumsi makanan tinggi serat setiap hari
- Memperbanyak konsumsi buah dan sayuran
- Membatasi daging merah dan makanan ultra-proses
- Menjaga berat badan tetap ideal
- Berolahraga secara rutin
- Menghindari konsumsi alkohol berlebihan
Selain menjaga pola hidup, pemeriksaan kesehatan secara berkala juga penting, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko.
Baca Juga: BPOM Gerebek Gudang Kosmetik Ilegal di Tangerang, Nilainya Capai Rp 27,6 Miliar
Metode Deteksi Kanker Usus Besar
Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi kanker usus besar antara lain:
Fecal Occult Blood Test (FOBT)
Tes ini bertujuan menemukan keberadaan darah tersembunyi dalam tinja. Pemeriksaan ini dapat membantu mendeteksi kanker usus pada tahap awal, terutama pada orang yang belum mengalami gejala.
Jika ditemukan adanya darah, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan lanjutan seperti kolonoskopi.
Baca Juga: Anak Usia Berapa Boleh Diberi Susu Formula? Ini Kata Prof Rini Sekartini
Kolonoskopi
Kolonoskopi menggunakan alat berbentuk tabung panjang dan fleksibel dengan kamera di ujungnya. Pemeriksaan ini memungkinkan dokter melihat bagian dalam usus besar untuk mendeteksi polip atau jaringan kanker.
Sigmoidoskopi
Pemeriksaan ini mirip dengan kolonoskopi, tetapi hanya memeriksa bagian bawah usus besar yang menjadi salah satu lokasi kanker berkembang.
Baca Juga: Sering Kerja di Kafe Sambil Bawa Laptop? Waspada Saraf Kejepit Mengintai
Kesimpulan
Kanker usus besar dapat menyerang siapa saja, termasuk usia muda. Perubahan pola buang air besar, darah pada tinja, hingga penurunan berat badan tanpa sebab perlu mendapat perhatian. Menjaga pola makan tinggi serat, mengurangi makanan berisiko, serta melakukan pemeriksaan dini menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan usus.
Editor : Ubaidillah