RadarBangkalan.id - Gelaran Piala Dunia 2026 tidak hanya menghadirkan persaingan sengit antarnegara, tetapi juga tantangan besar dari kondisi cuaca. Suhu panas ekstrem diprediksi menjadi salah satu ancaman bagi pemain maupun suporter yang hadir langsung di stadion.
Dari total 104 pertandingan yang dijadwalkan, sebanyak 26 laga diperkirakan berlangsung dalam kondisi Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) index minimal 26 derajat Celsius.
Baca Juga: 4 Laga Piala Dunia 2026 Hari Ini, Jerman vs Curacao dan Belanda vs Jepang Jadi Sorotan
Bahkan, lima pertandingan diprediksi menghadapi kondisi lebih berat dengan WBGT mencapai 28 derajat Celsius atau lebih berdasarkan perkiraan World Weather Attribution.
Apa Itu WBGT dan Mengapa Penting dalam Sepak Bola?
Menurut National Weather Service, Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) merupakan indikator yang digunakan untuk memperkirakan tingkat tekanan panas atau heat stress yang dirasakan tubuh manusia.
Indeks ini tidak hanya melihat suhu udara, tetapi juga memperhitungkan beberapa faktor lain seperti:
Baca Juga: Makan Keju Setiap Hari, Apa yang Terjadi pada Tubuh? Ini 6 Dampaknya
- Tingkat kelembaban udara.
- Paparan radiasi sinar matahari.
- Kecepatan angin.
Kombinasi faktor tersebut dapat menentukan seberapa sulit tubuh mengatur suhu internal ketika berada di lingkungan panas.
Baca Juga: BGN Evaluasi Insentif Dapur MBG Rp6 Juta per Hari, Berpotensi Diubah atau Dihentikan
Panas Ekstrem Bisa Turunkan Performa Pemain
Cuaca panas dapat memberikan dampak besar terhadap performa atlet. Saat suhu tubuh meningkat terlalu tinggi, pemain berisiko mengalami gangguan seperti heat exhaustion hingga heat stroke.
Mike Tipton dari University of Portsmouth menjelaskan bahwa kondisi panas dapat membuat intensitas permainan menurun.
Baca Juga: Makan Keju Setiap Hari, Apa yang Terjadi pada Tubuh? Ini 6 Dampaknya
Dalam situasi tersebut, pemain cenderung mengurangi jumlah sprint, memperpendek jarak lari, dan pertandingan berpotensi lebih sering berakhir melalui adu penalti karena stamina terkuras.
Kelembaban Tinggi Membuat Tubuh Sulit Mendinginkan Diri
Pakar meteorologi senior sekaligus presenter cuaca Everton Fox menjelaskan bahwa kombinasi kelembaban tinggi, paparan matahari, dan kondisi angin dapat memperburuk tekanan panas pada tubuh.
Saat kelembaban tinggi, keringat lebih sulit menguap. Padahal, penguapan keringat merupakan salah satu mekanisme utama tubuh untuk menurunkan suhu.
Akibatnya, tubuh bisa mengalami kesulitan menjaga suhu tetap stabil meski seseorang sudah banyak berkeringat.
Baca Juga: Serangan Jantung Saat Tidur Bisa Terjadi, Kenali Gejala yang Sering Diabaikan
Risiko Dehidrasi hingga Kram Otot
Pelatih fisik yang pernah bekerja bersama klub sepak bola Inggris seperti Swansea dan West Ham, Raiyan Abbasi, menjelaskan bahwa tubuh menggunakan keringat sebagai bagian dari proses termoregulasi atau pengaturan suhu tubuh.
Baca Juga: Kenali Gejala Kanker Usus Besar yang Sering Diabaikan, Bisa Menyerang Usia Muda
Namun, kehilangan cairan berlebihan akibat cuaca panas dapat menyebabkan berbagai masalah, seperti:
- Dehidrasi.
- Kram otot.
- Kelelahan.
- Penurunan kemampuan fisik.
Meski demikian, atlet profesional umumnya sudah memiliki pengalaman menghadapi berbagai kondisi cuaca karena terbiasa menjalani latihan dan pertandingan dalam lingkungan berbeda.
Baca Juga: Kanker Payudara Ternyata Bisa Menyerang Pria, Kisah Tyler Mane Buka Kesadaran Baru
Hydration Break Jadi Salah Satu Antisipasi FIFA
Untuk menghadapi tantangan panas selama Piala Dunia 2026, FIFA telah menerapkan aturan hydration break.
Dalam aturan baru tersebut, pemain akan mendapatkan jeda minum selama tiga menit di setiap babak pada seluruh pertandingan, tidak hanya saat cuaca panas.
Kebijakan tersebut bertujuan membantu pemain menjaga kondisi fisik dan mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat suhu tinggi.
Baca Juga: Tak Cuma Rugikan Ekonomi, Korupsi Ternyata Berdampak pada Kesehatan Mental
Suporter Juga Perlu Waspada
Ancaman panas ekstrem tidak hanya berlaku bagi pemain di lapangan. Suporter yang menyaksikan pertandingan langsung juga dapat mengalami dampak serupa, terutama jika berada di bawah paparan matahari dalam waktu lama.
Penonton yang hadir di stadion perlu memperhatikan asupan cairan, menggunakan perlindungan dari matahari, serta mengenali tanda-tanda tubuh mengalami gangguan akibat panas.
Baca Juga: Rahasia Kopi Lebih Sehat, Tambahkan Bumbu Dapur Ini untuk Bantu Turunkan Risiko Diabetes
Dengan jadwal pertandingan yang tersebar di berbagai wilayah Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, faktor cuaca menjadi salah satu aspek penting yang akan memengaruhi jalannya Piala Dunia 2026.
Editor : Ubaidillah