News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Kromosom Y Pria Disebut Terancam Hilang, Ini Dampaknya bagi Kesehatan Manusia

Ubaidillah • Selasa, 16 Juni 2026 | 08:03 WIB
Foto: Getty Images/iStockphoto/vchal
Foto: Getty Images/iStockphoto/vchal

 

RadarBangkalan.id - Kromosom Y selama ini dikenal sebagai kromosom penentu jenis kelamin pria. Namun, penelitian genetika terbaru menunjukkan bahwa kromosom tersebut mengalami perubahan besar sepanjang evolusi dan berpotensi menghilang di masa depan.

Meski isu kepunahan kromosom Y menjadi perhatian para ilmuwan, persoalan yang lebih dekat saat ini adalah fenomena hilangnya kromosom Y pada sebagian pria seiring bertambahnya usia.

Baca Juga: Benarkah Golongan Darah O Lebih Panjang Umur? Ini Fakta di Balik Kaitannya dengan Kesehatan

Kondisi yang dikenal sebagai loss of chromosome Y (LOY) ini ditemukan pada sel darah, sel otak, hingga sel sistem kekebalan tubuh pria lanjut usia.

Penelitian menunjukkan kehilangan kromosom Y tidak selalu berdampak langsung pada kehidupan seseorang, tetapi dapat berkaitan dengan peningkatan risiko sejumlah penyakit serius.

Kehilangan Kromosom Y Berkaitan dengan Berbagai Penyakit

Kromosom Y memang hanya menyusun sebagian kecil dari keseluruhan DNA manusia. Namun, penelitian terbaru menunjukkan kromosom ini kemungkinan memiliki fungsi lebih besar daripada yang sebelumnya diperkirakan.

Hilangnya kromosom Y telah dikaitkan dengan beberapa kondisi kesehatan, seperti:

Baca Juga: Dokter Anak dr Ratna Dituntut 4,5 Tahun Penjara, IDAI Soroti Dugaan Kriminalisasi Tenaga Medis

Baca Juga: Doa Awal Tahun Baru Islam 1448 H Lengkap Arab, Latin, Terjemahan, dan Keutamaannya

Para peneliti menemukan bahwa pria lanjut usia yang mengalami kehilangan kromosom Y memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan tertentu dibandingkan mereka yang tidak mengalami kondisi tersebut.

Baca Juga: Viral Siti Zahro Idap Kista Ovarium 29 Cm, Dokter Ungkap Penyebab dan Gejalanya

Kromosom Y dan Risiko Kanker

Salah satu hubungan paling menarik ditemukan pada kasus kanker kandung kemih.

Penelitian pada 2023 menunjukkan sekitar 40 persen pria lanjut usia dengan kanker kandung kemih mengalami kehilangan kromosom Y pada sel tumor mereka.

Hal ini menarik perhatian ilmuwan karena pria memang memiliki risiko lebih tinggi mengalami kanker kandung kemih dibandingkan wanita.

Penelitian lanjutan menemukan bahwa sel kekebalan tubuh yang kehilangan kromosom Y menjadi kurang efektif dalam melawan sel kanker.

Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa kromosom Y memiliki peran dalam menjaga kemampuan sistem imun menghadapi penyakit.

Baca Juga: Tanda Awal Kanker Pankreas Bisa Terlihat dari Feses? Ini Temuan Penelitian Terbaru

Mengapa Kromosom Y Bisa Hilang?

Kromosom Y dianggap lebih rentan mengalami perubahan dibandingkan kromosom lainnya.

Saat sel tubuh membelah dan melakukan replikasi DNA, kromosom Y dapat mengalami kesalahan yang menyebabkan sebagian sel kehilangan kromosom tersebut.

Dari total 46 kromosom dalam sel manusia, kromosom Y menjadi salah satu kromosom yang dapat hilang tanpa langsung menyebabkan kematian sel.

Baca Juga: Kenali Gejala Kanker Usus Besar yang Sering Diabaikan, Bisa Menyerang Usia Muda

Namun, hilangnya kromosom ini dapat mengubah cara kerja sel, terutama pada sistem kekebalan tubuh.

Sebuah penelitian pada 2022 menemukan bahwa ketika sel imun pada jantung tikus kehilangan kromosom Y, kondisi tersebut menyebabkan gangguan fungsi jantung dan meningkatkan risiko kematian.

Apakah Kromosom Y Benar-Benar Akan Punah?

Para ilmuwan masih berbeda pendapat mengenai masa depan kromosom Y.

Ahli biologi evolusi Jennifer Hughes menilai kromosom Y kemungkinan tidak akan benar-benar hilang karena gen yang tersisa di dalamnya memiliki fungsi penting bagi tubuh manusia.

Menurutnya, tekanan evolusi untuk mempertahankan gen-gen tersebut cukup kuat sehingga membuat kromosom Y tetap bertahan.

Baca Juga: Kanker Payudara Ternyata Bisa Menyerang Pria, Kisah Tyler Mane Buka Kesadaran Baru

Sementara itu, ahli biologi evolusi Jenny Graves memiliki pandangan berbeda. Ia menyebut gen penting pada kromosom Y secara teori dapat berpindah ke kromosom lain.

Beberapa spesies mamalia diketahui sudah tidak memiliki kromosom Y. Sebagai gantinya, fungsi penentu jenis kelamin telah diambil alih oleh kromosom lain.

Hal tersebut menunjukkan bahwa perubahan struktur genetik bukan sesuatu yang mustahil dalam proses evolusi.

Baca Juga: Klaim Membengkak, BPJS Kesehatan Butuh Suntikan Dana Rp 20 Triliun

Penelitian Kromosom Y Masih Terus Berkembang

Kromosom Y baru berhasil dipetakan secara lengkap dalam beberapa tahun terakhir. Kemajuan teknologi pengurutan genom membuat para ilmuwan mulai memahami fungsi kromosom ini secara lebih mendalam.

Walaupun hanya menyumbang sekitar 0,9 persen dari total DNA dalam sel pria, kromosom Y ternyata memiliki kaitan dengan berbagai proses biologis.

Baca Juga: Cara Mengatasi Anak Takut Dokter Gigi, Coba Program First Dental Visit dari Medikids

Penelitian mengenai kromosom Y masih terus berkembang. Temuan di masa depan diharapkan dapat membantu memahami lebih jauh hubungan antara genetika pria, penyakit, dan proses penuaan.

Editor : Ubaidillah
#kromosom y #genetika #infertilitas #penyakit kanker #kesehatan pria