RadarBangkalan.id - Olahraga memang menjadi salah satu cara menjaga kesehatan tubuh. Namun, aktivitas fisik yang dilakukan terlalu berat tanpa persiapan matang justru dapat membawa risiko serius.
Salah satu kondisi yang belakangan banyak mendapat perhatian adalah rhabdomyolysis atau rhabdo. Kondisi ini terjadi ketika jaringan otot mengalami kerusakan parah sehingga melepaskan zat tertentu ke dalam aliran darah yang dapat membebani kerja ginjal.
Baca Juga: Bukan Pertanda Rezeki, Ini Alasan Mata Sering Kedutan Menurut Dokter Mata
Pada olahraga berat seperti marathon atau hyrox, pelari pemula disebut menjadi kelompok yang lebih rentan mengalami kondisi ini. Penyebab utamanya adalah tubuh yang belum siap menghadapi intensitas latihan tinggi.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, dr Tunggul Situmorang, SpPD-KGH, mengatakan banyak pelari pemula melakukan olahraga ekstrem tanpa membangun kemampuan fisik secara bertahap.
"Salah satu penyebabnya sebenarnya adalah kalau pemanasannya itu tidak gradual," ujar dr Tunggul saat dihubungi detikcom.
Baca Juga: Kanker Usus Buntu Meningkat pada Generasi Muda, Risiko Milenial hingga 4 Kali Lipat Lebih Tinggi
Menurutnya, sebagian orang merasa sudah cukup kuat sehingga langsung memaksakan diri berlari dengan intensitas tinggi. Padahal, tubuh membutuhkan proses adaptasi sebelum menghadapi aktivitas berat.
"Atau mungkin dia merasa bahwa sudah biasa, dia langsung tancap begitu. Jadi bisa dihindari dengan pemanasan yang gradual sebenarnya pada awalnya. Tapi memang itu (rhabdo) terutama pada pemula," tambahnya.
Bukan Hanya Pemula, Atlet Berpengalaman Juga Bisa Berisiko
Meski pelari pemula lebih sering disebut berisiko, bukan berarti atlet berpengalaman sepenuhnya terbebas dari ancaman rhabdomyolysis.
Baca Juga: Pelari Marathon Kolaps hingga Cuci Darah, Kenali Bahaya Rhabdomyolysis Akibat Olahraga Ekstrem
Menurut dr Tunggul, siapa pun dapat mengalami kondisi tersebut jika melakukan aktivitas fisik yang terlalu berat secara mendadak tanpa persiapan tubuh yang cukup.
"Sudah pelari marathon yang sudah berpengalaman sampai 42 kilometer, tetapi tetap saja bisa terjadi. Dasarnya ya itu, sangat eksesif, sangat berat, mendadak," jelasnya.
Artinya, pengalaman olahraga tidak otomatis membuat seseorang aman apabila tubuh dipaksa melampaui batas kemampuan.
Dehidrasi dan Cuaca Panas Bisa Memperparah Risiko
Selain intensitas olahraga yang berlebihan, faktor lain yang dapat meningkatkan risiko rhabdomyolysis adalah kurangnya asupan cairan selama aktivitas fisik.
Baca Juga: Jangan Salah Pilih, Kenali Perbedaan Susu UHT, Susu Bubuk, dan Susu Kental Manis
Dehidrasi membuat tubuh kehilangan keseimbangan cairan dan elektrolit. Kondisi tersebut dapat memperberat kerja ginjal, bahkan meningkatkan risiko terjadinya gangguan ginjal akut atau acute kidney injury (AKI).
"Salah satu faktor (kekurangan cairan), tapi bukan itu utamanya. Kalau dehidrasi, dehidrasi sendiri bisa menjadi acute kidney injury, jadi gangguan gagal ginjal akut, sehingga bisa memperberat atau mencetuskan," kata dr Tunggul.
Baca Juga: Pola Makan Ketat Cristiano Ronaldo Tanpa Cheat Day, Ini Dampak Positif dan Risikonya
Risiko juga semakin meningkat ketika olahraga dilakukan dalam kondisi cuaca panas ekstrem. Suhu tinggi membuat tubuh kehilangan lebih banyak cairan melalui keringat sehingga kebutuhan hidrasi menjadi lebih besar.
Kenali Tanda Bahaya Saat Olahraga Berat
Rhabdomyolysis tidak boleh dianggap sebagai kelelahan biasa. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai setelah olahraga berat antara lain:
- Nyeri otot hebat yang tidak biasa
- Otot terasa sangat lemah atau kaku
- Tubuh mengalami kelelahan ekstrem
- Urine berubah menjadi lebih gelap
- Frekuensi buang air kecil menurun
- Mual atau merasa tidak enak badan
Jika mengalami gejala tersebut setelah olahraga intens, pemeriksaan medis diperlukan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Olahraga Tetap Aman dengan Persiapan yang Tepat
Olahraga marathon maupun latihan intensitas tinggi tetap memiliki banyak manfaat bagi kesehatan apabila dilakukan dengan cara yang benar.
Baca Juga: Ciri-Ciri Jamu Asli Vs Oplosan, Kenali Sebelum Dikonsumsi agar Tidak Tertipu
Pelari perlu meningkatkan jarak dan intensitas latihan secara bertahap, melakukan pemanasan, mencukupi kebutuhan cairan, serta memahami batas kemampuan tubuh.
Keinginan mencapai target waktu atau menyelesaikan lomba sebaiknya tidak membuat seseorang mengabaikan sinyal tubuh. Dalam olahraga, kemampuan berhenti ketika tubuh memberi peringatan juga menjadi bagian penting dari menjaga kesehatan.
Baca Juga: Kenali Tahapan Kanker Usus Besar dari Stadium 0 hingga 4, Ini Perubahan Feses yang Perlu Diwaspadai
Editor : Ubaidillah