RadarBangkalan.id - Kasus kerusakan ginjal akibat rhabdomyolysis setelah olahraga berat kembali menjadi perhatian publik. Salah satu kasus yang viral adalah seorang pelari yang harus menjalani cuci darah setelah mengalami kolaps saat mengikuti perlombaan.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar: apakah ginjal yang terganggu akibat rhabdomyolysis bisa kembali pulih seperti semula?
Baca Juga: Pelari Pemula Rentan Alami Rhabdomyolysis, Olahraga Berlebihan Bisa Picu Gagal Ginjal
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, dr Tunggul Situmorang, SpPD-KGH, menjelaskan bahwa kerusakan ginjal akibat rhabdomyolysis tidak selalu bersifat permanen.
Menurutnya, gangguan ginjal akut atau acute kidney injury (AKI) yang terjadi akibat rhabdomyolysis masih memiliki peluang untuk pulih, terutama jika mendapatkan penanganan medis dengan cepat.
"Misalnya AKI grade 1 dan 2, itu pasti reversible (bisa disembuhkan) tanpa mungkin dialisis. Tapi kalau sudah grade 3, di AKI itu, itu sudah harus dialisis," ujar dr Tunggul saat dihubungi detikcom.
Ia menegaskan, semakin cepat pasien mendapatkan tindakan sesuai kondisi medisnya, semakin besar kemungkinan fungsi ginjal dapat kembali membaik.
Baca Juga: Ismael Kone Patah Kaki di Piala Dunia 2026, Dokter Jelaskan Kenapa Pemain Tak Langsung Merasa Sakit
"Makin cepat dia diambil tindakan sesuai dengan indikasi, maka tentu dia akan reversible," tambahnya.
Apa Itu Rhabdomyolysis?
Rhabdomyolysis atau rabdomiolisis merupakan kondisi ketika jaringan otot mengalami kerusakan parah sehingga komponen di dalam sel otot, seperti protein mioglobin dan elektrolit, masuk ke aliran darah.
Penumpukan mioglobin dapat membuat ginjal bekerja lebih berat untuk menyaring zat tersebut. Dalam kondisi tertentu, hal ini dapat menyebabkan gagal ginjal akut.
Selain gangguan ginjal, rhabdomyolysis juga dapat meningkatkan risiko gangguan elektrolit hingga masalah irama jantung.
Baca Juga: Bukan Pertanda Rezeki, Ini Alasan Mata Sering Kedutan Menurut Dokter Mata
Penyebab Rhabdomyolysis Saat Olahraga
Menurut dr Tunggul, salah satu pemicu utama rhabdomyolysis pada olahraga berat adalah aktivitas fisik yang dilakukan terlalu mendadak tanpa persiapan.
Banyak orang langsung meningkatkan intensitas latihan tanpa memberi kesempatan tubuh untuk beradaptasi.
Baca Juga: Kanker Usus Buntu Meningkat pada Generasi Muda, Risiko Milenial hingga 4 Kali Lipat Lebih Tinggi
"Salah satu penyebabnya sebenarnya kalau pemanasannya itu tidak gradual ya atau mungkin dia merasa bahwa sudah biasa, dia langsung tancap gitu," jelasnya.
Padahal, peningkatan beban latihan secara bertahap dapat membantu tubuh beradaptasi dan mengurangi risiko cedera otot berat.
Baca Juga: Pelari Marathon Kolaps hingga Cuci Darah, Kenali Bahaya Rhabdomyolysis Akibat Olahraga Ekstrem
Dehidrasi dan Cuaca Panas Bisa Memperparah Risiko
Selain faktor latihan, kekurangan cairan juga dapat memperburuk kondisi tubuh saat olahraga berat.
Dehidrasi dapat memicu gangguan ginjal akut secara langsung, sekaligus memperbesar risiko komplikasi ketika seseorang mengalami rhabdomyolysis.
"Salah satu faktor (kekurangan cairan), tapi bukan itu utamanya. Tapi kalau itu dehidrasi, dehidrasi sendiri bisa menjadi acute kidney injury kan. Jadi gangguan gagal ginjal akut, jadi bisa memperberat, bisa mencetuskan," kata dr Tunggul.
Baca Juga: Pola Makan Ketat Cristiano Ronaldo Tanpa Cheat Day, Ini Dampak Positif dan Risikonya
Risiko tersebut semakin meningkat ketika aktivitas fisik dilakukan dalam cuaca panas ekstrem. Tubuh yang kehilangan banyak cairan melalui keringat akan lebih mudah mengalami gangguan keseimbangan cairan dan suhu tubuh.
Dalam kondisi tertentu, seseorang juga dapat mengalami heatstroke atau serangan panas akibat tubuh tidak mampu mengatur suhu dengan baik.
Jangan Memaksakan Diri Saat Olahraga
Olahraga tetap memberikan banyak manfaat bagi kesehatan, tetapi tubuh memiliki batas kemampuan yang perlu diperhatikan.
Para pelari maupun atlet disarankan untuk meningkatkan intensitas latihan secara bertahap, melakukan pemanasan yang cukup, menjaga hidrasi, serta mengenali tanda bahaya seperti kelelahan ekstrem, nyeri otot tidak biasa, urine berwarna gelap, atau penurunan kesadaran.
Baca Juga: Jalan Kaki 30 Menit Setiap Hari Ternyata Bisa Beri 5 Manfaat Besar untuk Tubuh
Mengejar target waktu atau menyelesaikan perlombaan bukan alasan untuk mengabaikan sinyal tubuh. Penanganan cepat menjadi faktor penting agar gangguan ginjal akibat rhabdomyolysis memiliki peluang pemulihan yang lebih baik.
Editor : Ubaidillah