RadarBangkalan.id - Kanker kolorektal atau kanker usus besar menjadi salah satu penyakit kanker dengan jumlah kasus tinggi di dunia. Secara global, kanker ini menempati peringkat ketiga sebagai kanker paling umum dengan sekitar 1,9 juta kasus baru setiap tahun.
Di Indonesia, kanker usus besar masuk dalam daftar kanker dengan jumlah kasus terbanyak. Penyakit ini berada di peringkat keempat untuk jumlah kasus dan menjadi penyebab kematian akibat kanker tertinggi kelima dengan angka kematian mencapai lebih dari 19.000 orang per tahun.
Baca Juga: Pelari Pemula Rentan Alami Rhabdomyolysis, Olahraga Berlebihan Bisa Picu Gagal Ginjal
Masalah terbesar dalam penanganan kanker kolorektal adalah keterlambatan diagnosis. Banyak pasien baru mengetahui penyakitnya ketika kanker sudah memasuki stadium lanjut.
Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Harbuwono Saksono mengatakan sebagian besar pasien kanker kolorektal datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi yang sudah terlambat.
"Jika 100 pasien kanker kolorektal datang ke fasilitas kesehatan kita hari ini, lebih dari 70 di antaranya akan datang dalam kondisi stadium lanjut," ujar Dante.
Menurutnya, keterlambatan bukan karena kanker tidak dapat ditangani, tetapi karena penyakit tersebut sering tidak terdeteksi sejak awal.
Baca Juga: Ismael Kone Patah Kaki di Piala Dunia 2026, Dokter Jelaskan Kenapa Pemain Tak Langsung Merasa Sakit
Tahapan Kanker Usus Besar dari Stadium Awal hingga Akhir
Kanker usus besar berkembang secara bertahap. Setiap stadium memiliki karakteristik dan gejala yang berbeda, mulai dari perubahan kecil hingga gangguan serius pada fungsi tubuh.
Kanker Usus Besar Stadium 0 dan Stadium 1
Pada stadium paling awal, kanker masih berada di lapisan terdalam usus besar dan belum menyebar ke jaringan lain.
Baca Juga: Kanker Usus Besar Meningkat pada Anak Muda, Waspadai 4 Tanda Awalnya
Banyak penderita belum merasakan gejala yang jelas. Bahkan, perubahan pada feses sering kali belum terlihat.
Namun, beberapa tanda yang mungkin muncul antara lain:
- Terdapat sedikit darah pada feses yang sulit terlihat secara langsung.
- Perubahan ringan pada kebiasaan buang air besar.
Karena gejalanya minim, pemeriksaan skrining menjadi sangat penting untuk mendeteksi kanker pada tahap ini.
Baca Juga: Bukan Pertanda Rezeki, Ini Alasan Mata Sering Kedutan Menurut Dokter Mata
Kanker Usus Besar Stadium 2
Pada stadium 2, sel kanker mulai berkembang melewati lapisan luar usus besar dan dapat mengenai jaringan di sekitar usus.
Gejala yang mungkin muncul meliputi:
- Darah terlihat pada feses.
- Bentuk feses menjadi lebih kecil atau tipis.
- Frekuensi buang air besar berubah.
- Muncul sensasi BAB tidak tuntas setelah buang air besar.
Baca Juga: Pelari Marathon Kolaps hingga Cuci Darah, Kenali Bahaya Rhabdomyolysis Akibat Olahraga Ekstrem
Kanker Usus Besar Stadium 3
Pada stadium 3, kanker sudah berkembang lebih jauh dan mulai menyebar ke kelenjar getah bening di sekitar usus besar.
Beberapa gejala yang dapat muncul antara lain:
Baca Juga: Jangan Salah Pilih, Kenali Perbedaan Susu UHT, Susu Bubuk, dan Susu Kental Manis
- Feses berubah menjadi sangat kecil dan tipis seperti pensil.
- Diare atau sembelit yang berlangsung lama.
- Darah dan lendir pada feses semakin sering ditemukan.
- Rasa tidak nyaman pada perut.
Kanker Usus Besar Stadium 4
Stadium 4 merupakan tahap ketika kanker sudah menyebar ke organ tubuh lain atau disebut kanker usus besar metastatik.
Pada tahap ini, fungsi usus dapat terganggu dan bahkan mengalami penyumbatan.
Baca Juga: Pola Makan Ketat Cristiano Ronaldo Tanpa Cheat Day, Ini Dampak Positif dan Risikonya
Gejala yang dapat muncul meliputi:
- Tidak dapat buang air besar akibat penyumbatan.
- Feses berbentuk sangat kecil seperti butiran atau pelet.
- Darah pada feses semakin sering muncul.
- Warna feses berubah menjadi gelap atau kehitaman.
- Nyeri perut berat.
- Perut mengalami pembengkakan.
Kondisi yang Gejalanya Mirip Kanker Usus Besar
Tidak semua perubahan pada feses atau gangguan pencernaan selalu menandakan kanker usus besar.
Beberapa kondisi lain yang dapat menyebabkan gejala serupa antara lain:
Baca Juga: Ciri-Ciri Jamu Asli Vs Oplosan, Kenali Sebelum Dikonsumsi agar Tidak Tertipu
- Wasir atau hemoroid.
- Fisura ani atau luka kecil pada anus.
- Penyakit radang usus seperti Crohn dan kolitis ulseratif.
- Infeksi saluran pencernaan.
- Efek makanan atau obat tertentu.
Meski demikian, perubahan yang berlangsung lama tetap perlu diperiksa untuk memastikan penyebabnya.
Kapan Harus Melakukan Skrining Kanker Usus Besar?
Tenaga kesehatan merekomendasikan skrining kanker kolorektal mulai dilakukan sejak usia 45 tahun.
Baca Juga: Aneh tapi Nyata, Pria Ini Punya Otak Sangat Kecil Akibat Hidrosefalus namun Tetap Bisa Bekerja
Pemeriksaan dapat dilakukan lebih awal bagi orang yang memiliki faktor risiko, seperti riwayat keluarga dengan kanker usus besar.
Salah satu metode skrining yang paling banyak digunakan adalah kolonoskopi. Pemeriksaan ini dinilai akurat untuk mendeteksi adanya polip atau kanker pada usus besar.
Deteksi dini menjadi langkah penting karena kanker usus besar yang ditemukan pada tahap awal memiliki peluang penanganan yang lebih baik.
Editor : Ubaidillah