RadarBangkalan.id - Penilaian terhadap kondisi kesehatan mental pada remaja dinilai masih menghadapi tantangan karena banyak sistem diagnosis menggunakan standar yang awalnya dirancang untuk orang dewasa.
Sebuah studi terbaru yang dikutip dari MedicalXpress mengungkapkan bahwa penggunaan ambang batas diagnosis yang terlalu kaku berpotensi membuat sejumlah kasus depresi dan gangguan kecemasan pada remaja tidak terdeteksi sejak awal.
Baca Juga: BPJS Kesehatan Hadirkan REHAB 3.0, Tunggakan Iuran Bisa Dicicil Harian hingga Mingguan
Para peneliti menjelaskan, gangguan mental pada anak muda dapat muncul dengan pola gejala yang berbeda dibandingkan orang dewasa. Perubahan emosi, perilaku sosial, hingga kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan.
Akibatnya, sebagian remaja yang sebenarnya mengalami penurunan kualitas hidup atau gangguan fungsi sehari-hari bisa saja tidak mendapatkan bantuan karena hasil pemeriksaan belum memenuhi batas diagnosis formal.
Gejala Mental Remaja Tidak Selalu Sama dengan Orang Dewasa
Sistem diagnosis kesehatan mental saat ini masih banyak bergantung pada klasifikasi berdasarkan jumlah gejala dan skor tertentu. Namun, para ahli menilai pendekatan tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kondisi psikologis remaja.
Baca Juga: Diet Mentimun Jepang Diklaim Turunkan 11 Kg dalam 2 Bulan, Ini Fakta dan Risikonya
Pada usia muda, gangguan emosional dapat muncul secara berubah-ubah. Seseorang mungkin mengalami kesulitan dalam belajar, hubungan sosial, tidur, atau aktivitas harian meski belum memenuhi seluruh kriteria diagnosis klinis.
Kondisi inilah yang membuat sejumlah kasus berisiko terlewat. Jika tidak mendapatkan perhatian lebih awal, gangguan mental dapat berkembang menjadi masalah yang lebih berat di kemudian hari.
Perlu Sistem Skrining Kesehatan Mental yang Lebih Fleksibel
Melalui temuan tersebut, para peneliti mendorong adanya pembaruan dalam sistem skrining kesehatan mental, khususnya bagi kelompok usia remaja.
Baca Juga: Pilih Teh Hijau atau Kopi Hitam Saat Diet? Ini Perbandingan Manfaat dan Risikonya
Menurut mereka, penilaian tidak seharusnya hanya berfokus pada angka atau skor diagnosis, tetapi juga mempertimbangkan seberapa besar kondisi tersebut memengaruhi kehidupan sehari-hari seseorang.
Pendekatan yang lebih fleksibel dinilai dapat membantu tenaga kesehatan mengenali remaja yang membutuhkan dukungan lebih cepat, meskipun gejalanya belum masuk kategori diagnosis tertentu.
Deteksi Dini Jadi Kunci Pencegahan Gangguan Mental Remaja
Deteksi dini menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah gangguan mental berkembang lebih jauh. Dukungan dari keluarga, lingkungan sekolah, dan tenaga kesehatan dapat membantu remaja mendapatkan penanganan yang sesuai.
Baca Juga: Minum Kopi Bikin Sering Buang Air Kecil? Ini Penjelasan Dokter Urologi
Para ahli menilai sistem kesehatan mental yang lebih responsif terhadap kondisi psikologis anak muda dapat meningkatkan peluang pemulihan sekaligus mengurangi dampak jangka panjang.
Dengan pendekatan yang lebih menyeluruh, remaja yang mengalami masalah emosional diharapkan tidak lagi terhambat hanya karena batasan angka dalam sistem diagnosis.
Editor : Ubaidillah