News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Penyebab Gelombang Panas Ekstrem di Eropa, BMKG Ungkap Fenomena Heat Dome dan Omega Block

Ubaidillah • Jumat, 3 Juli 2026 | 06:17 WIB
Cuaca panas di Indonesia. (Foto: Ari Saputra/detikFoto)
Cuaca panas di Indonesia. (Foto: Ari Saputra/detikFoto)

 

RadarBangkalan.id - Gelombang panas ekstrem kembali melanda sejumlah negara di Eropa pada musim panas 2026. Lonjakan suhu yang terjadi tidak hanya memicu gangguan kesehatan, tetapi juga menyebabkan meningkatnya angka kematian dan berdampak pada berbagai sektor infrastruktur.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan bahwa sedikitnya 1.300 kematian berlebih (excess deaths) telah dilaporkan di Eropa sejak 21 Juni 2026.

Baca Juga: Badai Petir Kembali Ganggu Piala Dunia 2026, Duel Meksiko vs Ekuador Ditunda Satu Jam

Menurut Tedros, fenomena gelombang panas yang sebelumnya hanya terjadi sekali dalam beberapa dekade kini semakin sering muncul akibat perubahan iklim dan pemanasan global.

"Didorong oleh perubahan iklim dan pemanasan global, fenomena gelombang panas yang sebelumnya dianggap hanya terjadi sekali dalam satu generasi kini hampir terjadi setiap tahun," ujarnya.

Eropa sendiri menjadi kawasan yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia, dengan laju kenaikan suhu sekitar dua kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.

BMKG Ungkap Penyebab Gelombang Panas di Eropa

Sekretaris Utama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Guswanto, menjelaskan bahwa gelombang panas di Eropa dipicu oleh kombinasi faktor atmosfer, letak geografis, serta dampak perubahan iklim.

Salah satu penyebab utamanya adalah terbentuknya fenomena omega block dan heat dome yang membuat udara panas dari Afrika Utara terperangkap di wilayah Eropa.

Baca Juga: BPJS Kesehatan Hadirkan REHAB 3.0, Tunggakan Iuran Bisa Dicicil Harian hingga Mingguan

Menurut Guswanto, posisi geografis Eropa yang berada di wilayah subtropis hingga temperate membuat kawasan tersebut lebih rentan menerima aliran udara panas ketika sirkulasi jet stream mengalami gangguan.

Fenomena omega block terjadi ketika aliran jet stream membentuk pola menyerupai huruf Yunani omega. Kondisi ini menciptakan sistem tekanan tinggi yang stabil sehingga udara panas tidak dapat bergerak keluar dan terus menumpuk di atas wilayah Eropa.

Baca Juga: Diet Mentimun Jepang Diklaim Turunkan 11 Kg dalam 2 Bulan, Ini Fakta dan Risikonya

Sementara itu, heat dome merupakan kondisi ketika tekanan udara tinggi bertindak seperti penutup yang memerangkap udara panas di dekat permukaan bumi. Udara yang terkompresi menjadi semakin panas, sementara langit yang cerah membuat radiasi matahari terus meningkatkan suhu permukaan.

Selain faktor atmosfer, sebagian besar wilayah Eropa berada pada lintang 35 hingga 55 derajat LU, yakni zona transisi antara wilayah subtropis dan iklim sedang. Posisi ini membuat udara panas dari Afrika Utara lebih mudah bergerak menuju Eropa ketika pola sirkulasi atmosfer berubah.

Perubahan Iklim Perparah Kondisi

BMKG juga menjelaskan bahwa perubahan iklim memperkuat intensitas gelombang panas yang terjadi di Eropa.

Laju kenaikan suhu di kawasan tersebut mencapai sekitar 0,56 derajat Celsius setiap dekade atau sekitar dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.

Baca Juga: Pilih Teh Hijau atau Kopi Hitam Saat Diet? Ini Perbandingan Manfaat dan Risikonya

Selain itu, keberhasilan Eropa dalam mengurangi polusi udara juga memiliki dampak tidak langsung terhadap peningkatan suhu permukaan. Berkurangnya partikel aerosol di atmosfer membuat lebih banyak radiasi matahari mencapai permukaan bumi sehingga suhu menjadi lebih tinggi.

Apakah Indonesia Berpotensi Mengalami Heatwave?

Fenomena gelombang panas di Eropa memunculkan kekhawatiran masyarakat Indonesia mengenai kemungkinan kejadian serupa.

Plh Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, menegaskan bahwa Indonesia memiliki peluang yang sangat kecil mengalami heatwave seperti di Eropa.

Baca Juga: Minum Kopi Bikin Sering Buang Air Kecil? Ini Penjelasan Dokter Urologi

Menurutnya, Indonesia berada di wilayah ekuator yang memiliki karakteristik atmosfer berbeda dengan negara-negara di lintang menengah hingga tinggi.

Selain itu, dinamika cuaca di Indonesia berubah relatif cepat sehingga kondisi tekanan udara tinggi yang bertahan lama seperti di Eropa sulit terbentuk.

Karena alasan tersebut, BMKG menyatakan fenomena heatwave seperti yang terjadi di Eropa pada dasarnya tidak terjadi di wilayah Indonesia.

Baca Juga: Dada Terasa Terbakar Jangan Diabaikan, Ini 10 Penyebab Mulai dari GERD hingga Serangan Jantung

Editor : Ubaidillah
#gelombang panas #bmkg #suhu ekstrem #cuaca ekstrem