RadarBangkalan.id - Stroke masih menjadi salah satu penyakit paling mematikan yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak hingga kelumpuhan. Namun, sebuah penelitian terbaru membawa harapan baru bagi para penyintas stroke melalui pendekatan yang berfokus pada ritme biologis tubuh.
Penelitian yang dilakukan tim ilmuwan dari University of Rochester Medicine mengungkapkan bahwa memperkuat ritme sirkadian atau jam biologis tubuh berpotensi mempercepat proses pemulihan otak setelah stroke. Temuan tersebut dipublikasikan dalam Journal of Clinical Investigation.
Baca Juga: Rahasia Panjang Umur Wanita 101 Tahun, Rutin Zumba hingga Selalu Bersyukur
Ritme sirkadian merupakan siklus biologis selama 24 jam yang mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk pola tidur, metabolisme, serta proses pemulihan jaringan.
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menemukan bahwa penguatan ritme sirkadian mampu meningkatkan kinerja sistem glimfatik, yakni jaringan pembersih alami otak yang berfungsi menghilangkan limbah metabolisme sekaligus menekan peradangan yang muncul setelah stroke.
Menariknya, manfaat tersebut tetap terlihat meski terapi baru diberikan beberapa hari setelah serangan stroke terjadi.
Peran Penting Sistem Glimfatik
Sistem glimfatik pertama kali ditemukan pada 2012 oleh ahli saraf University of Rochester Medicine, Maiken Nedergaard, MD DMSc bersama timnya. Sistem ini bertugas mengalirkan cairan serebrospinal ke seluruh otak untuk membawa nutrisi sekaligus membersihkan limbah dan zat berbahaya.
Baca Juga: Penyebab Gelombang Panas Ekstrem di Eropa, BMKG Ungkap Fenomena Heat Dome dan Omega Block
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa aktivitas sistem glimfatik meningkat saat seseorang tidur. Karena itu, kualitas tidur yang baik dinilai sangat penting dalam menjaga kesehatan otak.
Baca Juga: Badai Petir Kembali Ganggu Piala Dunia 2026, Duel Meksiko vs Ekuador Ditunda Satu Jam
"Diskusi mengenai pemulihan stroke sebenarnya dimulai dari gagasan bahwa stroke bukan hanya gangguan pembuluh darah, tetapi juga gangguan terhadap sistem pengaturan waktu biologis," ujar Hablitz, penulis utama penelitian.
Gangguan Tidur Memengaruhi Proses Pemulihan
Para peneliti telah lama mengetahui bahwa stroke memiliki pola waktu tertentu. Kasus stroke lebih sering terjadi pada pagi hari dan umumnya mencapai tingkat keparahan tertinggi menjelang akhir siklus tidur.
Selain itu, banyak penyintas stroke mengalami gangguan pola tidur yang berkaitan dengan proses pemulihan yang lebih lambat, meningkatnya risiko depresi, hingga penurunan kualitas hidup.
Temuan tersebut mendorong para peneliti untuk mencari tahu apakah memperkuat ritme biologis tubuh dapat membantu mempercepat penyembuhan.
Baca Juga: BPJS Kesehatan Hadirkan REHAB 3.0, Tunggakan Iuran Bisa Dicicil Harian hingga Mingguan
"Hasilnya membuat kami bertanya, jika sistem pengaturan waktu tubuh terganggu setelah stroke, apakah memperkuat jam biologis dapat meningkatkan proses pemulihan?" kata Hablitz.
Baca Juga: Diet Mentimun Jepang Diklaim Turunkan 11 Kg dalam 2 Bulan, Ini Fakta dan Risikonya
Mengurangi Peradangan pada Otak
Dalam kondisi normal, sistem glimfatik membantu membersihkan molekul penyebab peradangan dari jaringan otak. Namun setelah stroke, kemampuan sistem ini menurun sehingga limbah dan molekul inflamasi dapat menumpuk lebih lama.
Baca Juga: Pilih Teh Hijau atau Kopi Hitam Saat Diet? Ini Perbandingan Manfaat dan Risikonya
Selama ini penelitian stroke lebih banyak berfokus pada upaya menekan peradangan. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa gangguan proses pembersihan limbah di otak juga berperan besar terhadap lambatnya pemulihan.
Penumpukan molekul inflamasi setelah stroke diduga menyebabkan kerusakan jaringan otak terus berlanjut dan memperlambat proses penyembuhan. Karena itu, memperkuat ritme sirkadian dan meningkatkan fungsi sistem glimfatik dinilai berpotensi menjadi strategi baru dalam terapi pemulihan stroke di masa depan.
Meski hasil penelitian ini masih berasal dari model hewan, para peneliti berharap temuan tersebut dapat membuka jalan bagi pengembangan terapi baru yang lebih efektif untuk membantu penyintas stroke pulih lebih cepat.
Baca Juga: Minum Kopi Bikin Sering Buang Air Kecil? Ini Penjelasan Dokter Urologi
Editor : Ubaidillah