News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Mengapa Korban Hubungan Toksik Sulit Pergi? Psikiater Jelaskan Trauma Bonding

Ubaidillah • Senin, 6 Juli 2026 | 07:40 WIB
Foto: Ilustrasi hubungan toksik (Getty Images/Filmstax)
Foto: Ilustrasi hubungan toksik (Getty Images/Filmstax)

 

RadarBangkalan.id - Banyak orang bertanya mengapa korban hubungan toksik tetap bertahan meski terus mengalami perlakuan yang menyakitkan. Menurut psikiater, salah satu penyebab utamanya adalah trauma bonding, yaitu ikatan emosional yang terbentuk melalui siklus kekerasan dan permintaan maaf dari pelaku.

Spesialis kejiwaan dr. Erickson Arthur S., SpKJ menjelaskan bahwa korban hubungan toksik sering kali tidak mudah mengakhiri hubungan karena adanya pola manipulasi yang terus berulang.

Baca Juga: 7 Gejala Awal Kanker Pankreas yang Sering Diabaikan, Salah Satunya Gatal Tak Kunjung Hilang

Menurut dr. Erickson, siklus tersebut biasanya diawali dengan tindakan kekerasan. Bentuk kekerasan yang dialami korban tidak hanya fisik, tetapi juga dapat berupa kekerasan verbal maupun seksual.

Meski menimbulkan penderitaan, fase kekerasan bukanlah akhir dari pola hubungan tersebut.

Pelaku Meminta Maaf dan Memberi Harapan

Setelah melakukan kekerasan, pelaku umumnya memasuki fase berikutnya dengan meminta maaf kepada korban.

Tak jarang, pelaku juga berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya, bersikap lebih manis, menunjukkan perhatian, dan memberikan harapan bahwa hubungan akan berubah menjadi lebih baik.

Menurut dr. Erickson, fase inilah yang membuat ikatan emosional antara korban dan pelaku semakin kuat.

Baca Juga: Benarkah Makan Nasi Bikin Wajah Bengkak? Fakta di Balik Tren 'Carb Face' Menurut Ahli

Korban kemudian mulai memaafkan, berharap pasangan benar-benar berubah, dan memilih tetap bertahan dalam hubungan tersebut.

Baca Juga: Benarkah Tidak Pemanasan Jadi Penyebab Cedera Olahraga? Ini Penjelasan Dokter

Siklus Terus Berulang

Masalahnya, perilaku tersebut sering kali hanya bersifat sementara.

Setelah hubungan kembali membaik, kekerasan dapat terjadi lagi dan diikuti dengan permintaan maaf serta janji yang sama. Siklus ini terus berulang sehingga korban semakin sulit melepaskan diri.

Dalam dunia kesehatan mental, kondisi tersebut dikenal sebagai trauma bonding, yaitu keterikatan emosional yang terbentuk akibat pola kekerasan yang diselingi dengan perlakuan penuh kasih sayang.

Baca Juga: Rahasia Panjang Umur Wanita 101 Tahun, Rutin Zumba hingga Selalu Bersyukur

Manipulasi Membuat Korban Sulit Pergi

Dr. Erickson menegaskan bahwa pelaku biasanya menggunakan berbagai cara agar tidak ditinggalkan oleh korban.

Salah satu bentuk manipulasi yang paling sering dilakukan adalah meminta maaf, menunjukkan penyesalan, serta memberikan harapan palsu agar korban tetap bertahan.

Akibatnya, korban merasa sulit mengakhiri hubungan meskipun menyadari bahwa hubungan tersebut tidak lagi sehat.

Baca Juga: Minum Kopi Bikin Sering Buang Air Kecil? Ini Penjelasan Dokter Urologi

Penting Mengenali Tanda Hubungan Tidak Sehat

Trauma bonding dapat membuat korban merasa bingung, bersalah, atau terus berharap pasangan akan berubah.

Baca Juga: Diet Mentimun Jepang Diklaim Turunkan 11 Kg dalam 2 Bulan, Ini Fakta dan Risikonya

Karena itu, penting untuk mengenali pola hubungan yang dipenuhi kekerasan, manipulasi, dan siklus permintaan maaf yang terus berulang. Jika mengalami kondisi tersebut, mencari dukungan dari keluarga, teman tepercaya, atau tenaga profesional dapat menjadi langkah awal untuk mendapatkan bantuan.

Editor : Ubaidillah
#kekerasan emosional #trauma bonding #hubungan toksik #penyebab sulit putus #kesehatan mental