RadarBangkalan.id - Transformasi berat badan yang drastis sering terlihat mengesankan di media sosial. Namun, di balik foto before-after yang viral, tidak sedikit orang mengalami dampak kesehatan akibat menjalani diet ekstrem. Hal itu dialami kreator konten asal India, Kaajal, yang berhasil menurunkan 35 kilogram, tetapi kemudian mengalami kenaikan berat badan hingga 50 kilogram dalam satu dekade.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa penurunan berat badan yang terlalu cepat belum tentu memberikan hasil yang bertahan lama jika dilakukan dengan cara yang tidak sehat.
Baca Juga: Pria Ini Mengira Sakit Bahu karena Cedera Otot, Ternyata Gejala Kanker Darah
Diet Ketat Demi Turun 35 Kilogram
Kaajal mengungkapkan bahwa sekitar 10 tahun lalu dirinya memiliki berat badan sekitar 110 hingga 112 kilogram dan bertekad mencapai angka 70 kilogram secepat mungkin.
Demi mewujudkan target tersebut, ia menjalani pola hidup yang sangat ketat.
Setiap hari, Kaajal hanya mengonsumsi sekitar 800 hingga 1.000 kalori, jauh di bawah kebutuhan energi harian orang dewasa. Selain itu, ia berolahraga hampir dua jam setiap hari dan hanya tidur sekitar lima jam setiap malam.
Hasilnya memang terlihat. Berat badannya turun hingga 35 kilogram dalam waktu relatif singkat.
Baca Juga: 7 Gejala Awal Kanker Pankreas yang Sering Diabaikan, Salah Satunya Gatal Tak Kunjung Hilang
Tubuh dan Mental Justru Terganggu
Meski berhasil mencapai target, Kaajal mengaku diet ekstrem tersebut justru berdampak buruk bagi kesehatan fisik maupun mentalnya.
Ia mengalami kelelahan berat (burnout) dan kehilangan motivasi untuk mempertahankan pola hidup sehat.
Bahkan, menurutnya, mendengar kata "diet" saja sudah memicu rasa jenuh dan trauma akibat tekanan yang pernah dialaminya selama menjalani program penurunan berat badan.
Baca Juga: Benarkah Makan Nasi Bikin Wajah Bengkak? Fakta di Balik Tren 'Carb Face' Menurut Ahli
Berat Badan Naik hingga 50 Kilogram
Setelah menghentikan pola hidup ekstrem tersebut, berat badan Kaajal perlahan meningkat kembali.
Dalam kurun waktu sekitar 10 tahun, berat badannya bertambah hingga 50 kilogram, bahkan melampaui berat badan sebelum menjalani diet.
Kondisi ini dikenal sebagai yo-yo effect, yaitu fenomena ketika berat badan turun secara drastis, kemudian kembali naik karena tubuh mengalami perubahan metabolisme setelah periode pembatasan kalori yang ekstrem.
Apa Itu Yo-Yo Effect?
Yo-yo effect terjadi ketika tubuh beradaptasi terhadap asupan kalori yang sangat rendah dengan memperlambat laju metabolisme.
Saat pola makan kembali normal, tubuh lebih mudah menyimpan kelebihan energi sebagai lemak sehingga berat badan meningkat lebih cepat.
Baca Juga: Benarkah Tidak Pemanasan Jadi Penyebab Cedera Olahraga? Ini Penjelasan Dokter
Baca Juga: Rahasia Panjang Umur Wanita 101 Tahun, Rutin Zumba hingga Selalu Bersyukur
Selain memengaruhi berat badan, pola diet ekstrem juga dapat meningkatkan risiko:
- Kehilangan massa otot
- Gangguan metabolisme
- Kelelahan kronis
- Gangguan hormonal
- Stres dan gangguan kesehatan mental
Fokus pada Kebiasaan yang Berkelanjutan
Melalui pengalamannya, Kaajal mengajak masyarakat untuk tidak tergoda metode penurunan berat badan secara instan.
Menurutnya, keberhasilan menjaga berat badan lebih bergantung pada kebiasaan sehat yang dapat dilakukan secara konsisten dalam jangka panjang, seperti mengatur pola makan seimbang, berolahraga sesuai kemampuan, serta mencukupi waktu tidur.
Baca Juga: Diet Mentimun Jepang Diklaim Turunkan 11 Kg dalam 2 Bulan, Ini Fakta dan Risikonya
Pendekatan yang bertahap dinilai lebih aman sekaligus membantu menjaga hasil penurunan berat badan agar bertahan dalam waktu lama.
Editor : Ubaidillah