RadarBangkalan.id - Kasus infeksi menular seksual (IMS) di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat lonjakan kasus sifilis, gonore, hingga HIV, dengan mayoritas penderita berasal dari kelompok usia muda.
Selain meningkatnya jumlah kasus, tenaga medis juga mengingatkan adanya ancaman baru berupa resistensi antibiotik. Kondisi ini membuat sejumlah obat yang sebelumnya efektif untuk mengobati infeksi menular seksual kini tidak lagi mampu membunuh bakteri penyebab penyakit.
Baca Juga: Daftar Tim Lolos Perempat Final Piala Dunia 2026, Inggris dan Norwegia Lengkapi Delapan Besar
Berdasarkan data Kemenkes, sepanjang 2024 tercatat sebanyak 23.347 kasus sifilis, dengan 19.904 di antaranya merupakan sifilis dini. Selain itu, terdapat 77 kasus sifilis kongenital, yakni penularan infeksi dari ibu kepada bayi selama masa kehamilan.
Kasus gonore atau kencing nanah juga masih tergolong tinggi dengan 10.506 kasus, di mana jumlah terbanyak ditemukan di wilayah DKI Jakarta.
Di sisi lain, Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan beban HIV yang cukup besar. Pada 2025 diperkirakan terdapat sekitar 564 ribu orang hidup dengan HIV (ODHIV). Namun, baru sekitar 63 persen yang mengetahui status infeksinya.
Baca Juga: Argentina Vs Mesir di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026, Lionel Messi Bidik Perempat Final
Dari jumlah tersebut, sekitar 67 persen telah menjalani terapi antiretroviral (ARV). Meski demikian, hanya 55 persen yang berhasil mencapai kondisi viral load tersupresi, yaitu ketika jumlah virus berada pada tingkat yang sangat rendah sehingga risiko penularan ikut menurun.
Ancaman Resistensi Antibiotik
Pakar kesehatan seksual dr Boyke Dian Nugraha mengingatkan bahwa meningkatnya kasus IMS kini dibarengi dengan munculnya bakteri yang semakin kebal terhadap antibiotik.
Menurutnya, antibiotik yang dahulu efektif mengobati gonore kini banyak kehilangan daya kerjanya akibat penggunaan antibiotik yang tidak tepat.
Baca Juga: Norwegia Kejutkan Brasil 2-1, Haaland Antar Timnya ke Perempat Final Piala Dunia 2026
Ia menjelaskan, terapi gonore sebelumnya dapat ditangani menggunakan penisilin, kemudian beralih ke kanamycin hingga antibiotik golongan fluoroquinolone seperti ciprofloxacin. Namun saat ini, banyak bakteri penyebab gonore sudah resisten terhadap obat-obatan tersebut.
Karena itu, pasien yang tidak kunjung sembuh perlu menjalani pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui antibiotik yang masih efektif melalui uji sensitivitas bakteri.
Penyebab Resistensi Antibiotik
Resistensi antibiotik terjadi ketika bakteri mengalami mutasi sehingga tidak lagi dapat dibunuh oleh obat yang sebelumnya efektif.
Kondisi ini diperparah oleh penggunaan antibiotik tanpa resep dokter, menghentikan pengobatan sebelum waktunya, maupun mengonsumsi antibiotik secara berulang tanpa pemeriksaan medis.
Menurut dr Boyke, perilaku seksual berisiko tanpa perlindungan juga mempercepat penyebaran bakteri yang telah resisten di masyarakat.
Baca Juga: 7 Gejala Awal Kanker Pankreas yang Sering Diabaikan, Salah Satunya Gatal Tak Kunjung Hilang
Gejala Infeksi Menular Seksual
IMS sering kali tidak menimbulkan gejala, terutama pada perempuan. Namun, beberapa tanda yang perlu diwaspadai meliputi:
- Luka atau lepuhan di area kelamin.
- Cairan tidak normal dari vagina atau penis.
- Nyeri atau rasa terbakar saat buang air kecil.
- Gatal pada area genital.
- Pembengkakan kelenjar di lipat paha.
- Ruam pada kulit.
Baca Juga: Benarkah Makan Nasi Bikin Wajah Bengkak? Fakta di Balik Tren 'Carb Face' Menurut Ahli
Komplikasi Jika Tidak Diobati
Apabila tidak ditangani dengan baik, IMS dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, antara lain:
- Radang panggul.
- Kehamilan ektopik.
- Infertilitas atau gangguan kesuburan.
- Penularan dari ibu ke bayi selama kehamilan.
- Bayi lahir prematur, berat lahir rendah, hingga kematian neonatal.
- Meningkatkan risiko penularan HIV.
Cara Mencegah Infeksi Menular Seksual
Risiko IMS dapat ditekan melalui beberapa langkah pencegahan, di antaranya:
Baca Juga: Benarkah Tidak Pemanasan Jadi Penyebab Cedera Olahraga? Ini Penjelasan Dokter
- Menghindari hubungan seksual berisiko.
- Menjalani hubungan monogami dengan pasangan yang telah dipastikan bebas IMS.
- Melakukan pemeriksaan IMS sebelum berhubungan dengan pasangan baru.
- Menggunakan kondom atau dental dam secara benar dan konsisten.
- Mendapatkan vaksin HPV serta hepatitis A dan B.
- Menghindari konsumsi alkohol berlebihan dan narkoba.
- Berdiskusi secara terbuka mengenai riwayat kesehatan seksual dengan pasangan.
- Menggunakan PrEP bagi individu yang berisiko tinggi tertular HIV sesuai anjuran dokter.
Pakar juga menekankan pentingnya edukasi kesehatan reproduksi sejak dini agar masyarakat memahami bahwa infeksi menular seksual bukan hanya berdampak pada kesehatan reproduksi, tetapi juga dapat menimbulkan komplikasi serius apabila terlambat ditangani.
Baca Juga: Rahasia Panjang Umur Wanita 101 Tahun, Rutin Zumba hingga Selalu Bersyukur
Editor : Ubaidillah